Fiqih

WordPress is a favorite blogging tool of mine and I share tips and tricks for using WordPress here.

  • Bolehkah Membaca Kitab-Kitab Orang-Orang Menyimpang yang Ditulis Sebelum Menampakan Penyimpangannya (DiTahdzir Oleh Ulama)

    ASY-SYAIKH RABI’ BIN HADY AL-MADKHALY HAFIZHAHULLAH

    Pertanyaan:
    Sebagian orang yang dibicarakan (dibantah kesalahannya dan ditahdzir –pent) memiliki kitab-kitab, maka sebagian manusia ada yang menanyakan apakah boleh memanfaatkan kitab-kitabnya sebelum orang-orang yang menyimpang itu dibantah dan sebelum nampak penyimpangannya dari manhaj Salaf, maksudnya apakah kitab-kitabnya yang lama boleh dimanfaatkan?

    Jawaban:

    بسم الله الرحمن الرحيم
    ال حْ مَ دْ لله و اِلص لَّا ةَ و اَلس لَّا مَ ع لَ ىَ ر سَ وُ لْ اللهِ
    و عَ لَ َى آل ِه و صَ َح بْ هِ و مَ َن ات بَّ َع ه ُد اَه أ مَ َّا
    :ب عَ دُْ

    Sebagai jawaban atas pertanyaan ini saya katakan:
    Jika orang yang kalian sebutkan ini dia memiliki kitab-kitab di atas manhaj Salafus Shalih dari sisi akidah, dakwah, dan manhaj, dan padanya tidak terdapat cacat, maka dilihat dulu penyimpangannya. Jika hal itu berupa ketergelinciran sebagian ulama atau ketergilinciran para ulama yang masih diharapkan taubatnya dan meninggalkan kebathilannya, maka ketergelincirannya ini dimintakan ampunan, diharapkan kebaikan untuknya, dan tidak terburu-buru menyikapinya.

    Namun jika dia adalah orang yang telah menyebar kejahatannya, membahayakan, membangkang, menyombongkan diri, dan enggan untuk kembali kepada jalan yang benar, maka orang semacam ini diantara bentuk hukuman terhadapnya adalah dengan tidak menerima kebenaran darinya (maksudnya tidak membaca kitabnya, tidak mendengar kasetnya, dan tidak belajar kepadanya, bukan berarti menyatakan bathil jika dia bicara yang benar –pent).
    Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian Salaf:
    “DIANTARA HUKUMAN AHLI BID’AH ADALAH DENGAN TIDAK MENERIMA KEJUJURAN MEREKA.”

    Kita tidak butuh terhadap mereka, karena sudah cukup dengan Kitab Allah, Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam, serta warisan yang banyak dan agung yang telah ditinggalkan untuk kita oleh para pendahulu kita dalam semua bidang, apakah akidah, manhaj, akhlak, hukum halal haram, dan yang semisalnya. Manusia bersegera dan lebih suka mendatangi sesuatu yang baru, padahal sesuatu yang baru itu terkadang mengandung bencana dan musibah.

    Maka yang pertama kali hendaknya kalian berada pada tingkatan pertama, yaitu dengan mempelajari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi was sallam karena pada keduanya terdapat petunjuk dan cahaya dan telah mencukupi. Kemudian dengan riwayat-riwayat dari Salaf yang berporos pada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam. Kemudian disertai dengan upaya mengokohkan manusia di atas kandungan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu‘alaihi was sallam dalam perkara-perkara akidah dan manhaj, dan itu sangat banyak sekali.

    Jadi hendaknya kalian menimba ilmu darinya (Al-Qur’an, As- Sunnah dan riwayat Salaf) walhamdulillah. Karena sesungguhnya dikhawatirkan terhadap seorang penuntut ilmu jangan sampai dia diculik oleh orang-orang yang pura-pura menampakkan manhaj Salaf, kemudian Allah nampakkan hakekat mereka dan Allah bongkar tujuan busuk mereka.

    Hal semacam ini telah banyak terjadi di masa ini. Ada orang-orang yang lahiriyahnya di atas manhaj Salaf, kemudian setelah malam dan hari berganti serta terjadi berbagai peristiwa, tiba-tiba tersingkaplah keadaan mereka. Kita tidak tahu apakah dahulu mereka benar-benar di atas kebenaran dan merasa puas dengan manhaj Salaf?! Ataukah mereka hanya berkedok saja?! Allah saja yang mengetahui hakekat keadaan mereka.

    Maka orang-orang yang semacam mereka itu saya berpendapat untuk tidak merasa butuh kepada mereka dan tidak perlu bersedih karena merasa kehilangan mereka dan apa yang telah mereka usahakan. Pada kita ada yang telah mencukupi walhamdulillah.
    Hanya kepada Allah saja saya memohon agar mengokohkan kami dan kalian di atas kebenaran serta menjauhkan kami dan kalian dari berbagai fitnah yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya Rabb kita Maha Mendengarkan doa.

    و صَ لَ ىَّ الله ع لَ ىَ ن بَ يِ نِّ اَ م حُ مَ دَّ و عَ لَ ىَ آل هِِ
    .و صَ حَ بْ هِ و سَ لَ مََّ

    Sumber:
    http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=143439

  • Bolehkah Mengambil yang Termudah Ketika Ada Perbedaan Pendapat Diantara Para Ulama

    Asy-Syaikh Muqbil bin Hady Rahimahullah

    Pertanyaan:
    Ketika ada perbedaan pendapat di kalangan ulama pada suatu masalah, apakah boleh bagi seseorang untuk mentarjih diantara pendapat pendapat mereka dan mengambil yang sesuai dengan dirinya, padahal orang tersebut bukan termasuk orang yang ahli di dalam mentarjih, dan apakah hal ini termasuk perbuatan mencari-cari rukhshah (keringanan)?

    Jawaban:
    Ini adalah perkara yang penting, sebagian orang-orang Al-Azhar racun-racun mereka telah menebar di negeri-negeri Islam dan mereka pernah berbicara semisal dengan hal ini di al-Jami’ah al-Islamiyyah, yaitu bahwasanya jika muncul sebuah perkara maka dilihat perkataan-perkataan para ahli fikih, kemudian diambil yang paling mudah bagi manusia, dan seakan-akan kita diberi kebebasan memilih di dalam agama Allah, padahal perkataan-perkataan para ahli fikih bukanlah hujjah. Tetapi barangsiapa yang mmeiliki kemampuan untuk melihat dalil-dalil dan perkataan-perkataan mereka, kemudian dia mentarjih sesuai tuntutan dalil, maka dia boleh melakukannya. Kalau tidak demikian maka Rabbul ‘Izzah berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia:

    ف اَس أْ لَ وُ اْ أ هَ لْ الذ كِّ رْ إ نِ ك نُ تْ مُ لا ت عَ لْ مَ وُ نَْ

    [“Maka bertanyalah kepada para ulama jika kalian tidak mengetahui.”
    (QS. An-Nahl: 43]

    Adapun sikap main-main yang dilakukan oleh banyak orang-orang Al-Azhar dengan memilih apa yang sesuai dan cocok dengan realita dan selera manusia, maka ini tidak benar Dan para ulama telah mengatakan:
    “Mencari-cari rukhshah adalah perbuatan zindiq (kekafiran).”
    Jadi wajib untuk mengambil pendapat yang sesuai dengan tuntutan dalil, kalau dia tidak mampu maka hendaklah dia bertanya kepada ahli ilmu tentang dalilnya.

    Fadha-ih wa Nasha-ih, hal. 121-123
    Sumber: http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=3474

    الشيخ مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله
    السؤال:
    عند اختلاف العلماء في مسألة هل للشخص أن يرجح بين أقوالهم ويأخذ
    ما يناسبه مع أنه ليس من أهل الترجيح وهل هذا يعد من تتبع الرخص؟
    الإجابة:
    هذا أمر مهم؛ فبعض الأزهريين بثت سمومهم إلى كثير من البلاد
    الإسلامية وكانوا يتكلمون بنحو هذا في الجامعة الإسلامية أنها إذا
    حدثت قضية تنظر إلى أقوال الفقهاء، ثم تأخذ الأسهل على الناس
    وكأننا مفوضون في دين الله.
    وأقوال الفقهاء ليست بحجة بل من كان أهلا أن ينظر في أدلتهم
    وأقوالهم ثم يرجح ما يقتضيه الدليل فعل، وإلا فرب العزة يقول في
    كتابه الكريم: “ف اَس أْ لَ وُا أ هَ لْ الذ كِّ رْ إ نِ ك نُت مُ لاَ
    [ ت عَ لْ مَ وُن ”َ [النحل: 43
    أما ألعوبة كثير من الأزهريين ما يناسب ومايتلأم مع الواقع ومع
    الناس فلا.
    وقد كان العلماء يقولون: تتبع الرخص زندقة.
    فلا بد من الأخذ بما يقتضيه الدليل، وإلا فليسأل أهل العلم عن
    الدليل.
    122- فضائح ونصائح ص 121

  • BOLEHKAH BAGI ORANG YANG SUDAH SHALAT TARAWIH DAN DITUTUP DENGAN WITIR UNTUK KEMUDIAN IA MELAKUKAN SHALAT TAHAJJUD?

    ✍🏻 Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah

    [Pertanyaan:]

    ◾Apa hukumnya shalat Tarawih dan shalat Tahajjud?

    ◾Kapankah waktu shalat Tahajjud ? Dan berapakah jumlah raka’atnya?

    ◾ Dan apakah boleh bagi siapa yang sudah shalat Witir setelah selesai dari Tarawihnya, untuk ia shalat Tahajjud, ataukah tidak boleh?

    ◾ Dan apakah shalat Tarawih diharuskan bersambung dengan shalat Isya, yaitu dilakukan setelahnya secara langsung, ataukah boleh seandainya ada suatu jama’ah yang bersepakat untuk mengakhirkannya setelah shalat Isya, lalu mereka berpisah dan berkumpul lagi di lain kesempatan untuk mengerjakan shalat Tarawih? Ataukah yang demikian itu tidak boleh?

    [Jawab:]

    ◻Adapun shalat Tarawih, maka hukumnya sunnah muakkadah, dan pelaksanaannya adalah setelah shalat Isya dan sunnah rawatibnya (ba’diyyah) secara LANGSUNG. Inilah yang menjadi amalan kaum muslimin semenjak dahulu.

    ◻ Adapun mengakhirkannya sebagaimana ditanyakan oleh penanya, sehingga mereka mendatangi masjid dan mengerjakan Tarawih tersebut; maka ini menyelisihi apa yang telah menjadi amalan (muslimin) terdahulu. Para ulama ahli fiqih menyebutkan bahwasanya Tarawih itu dikerjakan segera setelah shalat Isya dan sunnah rawatibnya. Namun seandainya mereka mengakhirkannya, maka tidak kami katakan bahwa ini haram, akan tetapi yang demikian itu menyelisihi apa yang telah menjadi amalan semenjak dulu.

    ◻ Adapun Tahajjud; maka hukumnya juga sunnah, dan padanya terdapat keutamaan yang besar. Dan Tahajjud adalah shalat malam (yang dikerjakan) setelah bangun tidur. Lebih-lebih pada sepertiga malam terakhir, atau setelah pertengahan malam. Padanya terdapat keutamaan besar dan pahala yang banyak. Bahkan termasuk seutama-utama shalat Tathawwu’ (tambahan) yaitu Tahajjud di malam hari.

    Allah Ta’ala berfirman:

    إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئاً وَأَقْوَمُ قِيلاً

    “Sesungguhnya bangun (shalat) malam itu lebih kuat pengaruhnya dan lebih tepat bacaannya.” (Al-Muzamil 6)

    dan termasuk bentuk meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

    ◻ Dan seandainya seseorang shalat Tarawih, dan ia ikut Witir bersama imamnya, kemudian ia bangun lagi waktu malam dan melakukan Tahajjud; maka tidak ada larangan dari hal tersebut, dan tidak perlu ia mengulangi Witirnya, telah cukup baginya Witir bersama imamnya (tadi), dan ia bertahajjud dari sebagian waktu malam sepanjang apa yang Allah mudahkan.

    Dan jika ia mengakhirkan Witirnya hingga akhir shalat malam, maka tidak mengapa, tetapi ia kehilangan (keutamaan) mengikuti imam. Maka yang lebih utama agar ia mengikuti imam untuk Witir bersamanya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: 

    من قام مع الإمام حتى ينصرف ؛ كتب له قيام ليلة 

    “Barangsiapa shalat bersama imam sampai selesai, niscaya dituliskan (pahala) baginya shalat semalam suntuk.” (H.R Abu Daud, Tirmidzi, Ab-Nasai, Ibnu Majah)

    Maka ia ikuti imamnya, ia ikut Witir bersamanya, dan yang demikian ini tidak menghalanginya untuk bangun lagi di akhir malam guna bertahajjud semampunya.”

    TANYA JAWAB SEPUTAR SHALAT TARAWIH DAN TAHAJJUD
    | Sumber: Al-Muntaqa min Fataawaa al-Fawzan (jilid 3, hal. 76, fatwa no.116).
    | Faidah dari Ustadz Muhammad Higa hafizhahullah_Sewon Bantul

    ••••
    🌏 Link:
    http://forumsalafy.net/tanya-jawab-seputar-shalat-tarawih-dan-tahajjud/

  • Makna “Sesungguhnya Puasa Itu Untukku dan Aku Sendiri yang Akan Membalasnya” ?

    MAKNA HADITS: “KECUALI PUASA, KARENA SESUNGGUHNYA (PUASA ITU) UNTUKKU DAN  AKU SENDIRI YANG AKAN MEMBALASNYA”

    Oleh: Asy-Syaikh Al ‘Allaamah Muqbil bin Hady Al-Wadi’ie -rahimahullah-

    P E R T A N Y A A N :

    Bersabda Rasulullah ﷺ tentang apa yang Beliau riwayatkan dari Rabb-nya:

    ” كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به “
    “Semua amalan anak cucu Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa karena sesungguhnya ia diperuntukkan bagi-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

    Dan sebagaimana telah diketahui bahwasannya seluruh ibadah itu adalah untuk Allah dan akan diberikan pahala atasnya namun bagaimanakah (maksudnya) Allah hanya mengkhususkan puasa untuk-Nya?

    J A W A B A N:

    الخاصية فيه أنه بين العبد وربه فيمكن للشخص أن يتظاهر بأنه صائم لكنه إذا ذهب إلى بيته أو إلى مكان خالٍ يأكل .

    Kekhususan didalamnya bahwasannya amalan puasa tersebut (hanya diketahui) antara seorang hamba dengan Rabbnya. MUNGKIN saja seorang berpura-pura menampakkan diri sebagai seorang yang berpuasa NAMUN apabila ia kembali ke rumahnya atau ke tempat yang sepi maka ia makan.

    Maka demikianlah (maknanya) dan di dalamnya terdapat keistimewaan dan keutamaan pada amalan puasa. Begitu pula amalan-amalan lainnya, masing-masing memiliki keutamaan dan keistimewaan.

    Dan Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana dalam hadits Abu Umamah sungguh beliau mengatakan:  ” Tunjukkan kepadaku suatu amalan shalih – wahai Rasulullah – niscaya akan aku amalkan? :

    ” عليك بالصوم ؛ فإنه لا مثل له “

    “Atasmu untuk senantiasa berpuasa karena sesungguhnya tidak ada (amalan shalih) yang semisalnya.”

    Dan bukanlah maknanya bahwa amalan puasa itu lebih utama daripada shalat. AKAN TETAPI maknanya bahwa : padanya terdapat keistimewaan ini dan berpuasa itu menunjukkan suatu bentuk keikhlasan(dalam mengamalkannya).

    Dari kaset : Pertanyaan-pertanyaan para pemuda dari desa As-Sa’iid.

    معنى حديث : إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به

    نص الســـؤال:
    يقول الرسول صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربه : ” كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به ” فمن المعروف أن العبادات كلها لله ويثاب عليها ولكن كيف خص الله الصوم له فقط ؟

    نص الإجـــابة:
    الخاصية فيه أنه بين العبد وربه فيمكن للشخص أن يتظاهر بأنه صائم لكنه إذا ذهب إلى بيته أو إلى مكان خالٍ يأكل .
    هذا وفيه مزية وفضيلة للصوم ، وكذا بقية الأعمال لكلٍ شرفه وميزته ،

    والرسول – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – يقول كما في حديث أبي أمامة وقد قال : دلني على عمل يا رسول الله أعمله ؟ : ” عليك بالصوم ؛ فإنه لا مثل له ” ، وليس معناه أن الصوم أفضل من الصلاة لكن معناه أن له هذه المزية ، وأنه يدل على الإخلاص .

    ـــــــــــــــــــــــــ
    من شريط : ( أسئلة شباب قرية السعيد )

                                    ✺✻✺

    Sumber:
    http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=4254 (durasi 01:22)
    ✏ Alih Bahasa:
    Syabab Forum Berbagi Faidah

    __________________
    مجموعــــــة توزيع الفــــــوائد
    WA Forum Berbagi Faidah [FBF] | www.alfawaaid.net

  • Siapakah Orang yang Benar-benar Berpuasa?

    SIAPAKAH ORANG YANG BENAR-BENAR BERPUASA?

    al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata:

    “Orang yang benar-benar berpuasa adalah orang yang:
    👉 Anggota badannya berpuasa dari berbagai dosa;
    👉 Lisannya berpuasa dari ucapan dusta, kotor dan kebohongan;
    👉 Perutnya berpuasa dari makanan dan minuman; dan
    👉 Kemaluannya berpuasa dari perbuatan keji

    Sehingga;
    Kalau berbicara, ia tidak berbicara dengan ucapan yang menodai puasanya,
    Kalau berbuat, ia tidak berbuat sesuatu yang merusak puasanya,

    Jadi, semua ucapannya adalah ucapan yg bermanfaat lagi baik. Demikian juga dengan perbuatannya, ia ibarat aroma wangi yang dicium oleh orang yang duduk dekat pembawa minyak wangi.

    Orang yg bermajelis dengan orang yg berpuasa selalu mengambil manfaat dari majelis tersebut. Dalam majelis tersebut, ia aman dari sikap dusta, jahat dan zalim.

    Inilah PUASA yang DISYARIATKAN,
    bukan sekadar menahan diri dari makanan dan minuman saja.

    Sekali lagi, puasa hakiki itu adalah puasa anggota badan dari berbagai dosa, puasa perut dari makananan maupun minuman.

    Sebagaimana makanan dan minuman itu membatalkan puasa, maka demikian juga dengan berbagai dosa, ia akan memutus pahala puasa, merusak buah puasa, dan menjadikan orang yang berpuasa seperti orang yang sama sekali tidak berpuasa.

    al-Wabil ash-Shayyib, 31-32

    •••••••••••••••••••••
    Majmu’ah Manhajul Anbiya
    Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
    Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

  • BERADA DI KELUARGA YANG TIDAK ISTIQAMAH? JANGAN BERSEDIH, KITA BUKAN ORANG YANG PERTAMA Bag. 2

    Senantiasa Sabar, Tawakal, Istiqamah, Bersyukur, dan Berdoa agar turun Hidayah kepada Mereka

    NABI IBRAHIM ‘ALAIHISSALAM DENGAN AYAHANDANYA

    وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقاً نَّبِيّاً ﴿٤١﴾ إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئاً ﴿٤٢﴾ يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطاً سَوِيّاً ﴿٤٣﴾ يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيّاً ﴿٤٤﴾ يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمَن فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيّاً ﴿٤٥﴾ قَالَ أَرَاغِبٌ أَنتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْراهِيمُ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيّاً ﴿٤٦﴾ قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيّاً ﴿٤٧﴾ وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَى أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاء رَبِّي شَقِيّاً ﴿٤٨﴾ فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلّاً جَعَلْنَا نَبِيّاً ﴿٤٩﴾ وَوَهَبْنَا لَهُم مِّن رَّحْمَتِنَا وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيّاً ﴿٥٠

    041.
    Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang Shiddiq (sangat membenarkan) lagi seorang Nabi.

    042.
    Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?

    043.
    Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.

    044.
    Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Rabb Yang Maha Pemurah.

    045.
    Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Rabb Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”.


    046.
    Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada Rabb-Rabbku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”.

    047.
    Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.

    048.
    Dan aku akan menjauhkan diri daripadamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku”.

    049.
    Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq, dan Ya`qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi.

    050.
    Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.

    Q.S. Maryam: 41 – 50.

    ❗Perhatikan ayat-ayat akhir dari kisah yang agung ini, buah yang dipetik Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kala bersabar dalam berdakwah kepada ayahandanya dan tetap istiqamah walau mengalami penentangan dari orangtuanya.

    🎙Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy –rahimahullah- berkata dalam tafsirnya:

    {وَوَهَبْنَا لَهُمْ} أي: لإبراهيم وابنيه {مِنْ رَحْمَتِنَا} وهذا يشمل جميع ما وهب الله لهم من الرحمة، من العلوم النافعة، والأعمال الصالحة، والذرية الكثيرة المنتشرة، الذين قد كثر فيهم الأنبياء والصالحون.

    ”Dan Kami anugerahkan kepada mereka” , yaitu : Ibrahim dan kedua putranya ”sebagian dari rahmat Kami” yang meliputi segala karunia Allah kepada mereka dari rahmat-Nya, dari:
    ▪ Ilmu-ilmu yang bermanfaat,
    ▪ Amalan-amalan shalih,
    ▪ Keturunan yang banyak dan menyebar, yang banyak diantara mereka menjadi nabi dan orang shalih.”

    📖 Taisiirul Kariimir Rahman, As-Sa’diy, hal. 571.

    Muhibbukum fillah

  • BERADA DI KELUARGA YANG TIDAK ISTIQAMAH? JANGAN BERSEDIH, KITA BUKAN ORANG YANG PERTAMA Bag. 1

    Senantiasa Sabar, Tawakal, Istiqamah, dan Berdoa agar turun
    Hidayah kepada Mereka

    NABI NUH ‘ALAIHISSALAM DENGAN PUTRANYA

    حَتَّى إِذَا جَاء أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِن كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلاَّ مَن سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيلٌ ﴿٤٠﴾ وَقَالَ ارْكَبُواْ فِيهَا بِسْمِ اللّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٤١﴾ وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلاَ تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ ﴿٤٢﴾ قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاء قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِلاَّ مَن رَّحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ ﴿٤٣﴾ وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءكِ وَيَا سَمَاء أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاء وَقُضِيَ الأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْداً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ﴿٤٤﴾ وَنَادَى نُوحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابُنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ ﴿٤٥﴾ قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ ﴿٤٦﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلاَّ تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٤٧﴾ قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلاَمٍ مِّنَّا وَبَركَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِّمَّن مَّعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٤٨﴾ تِلْكَ مِنْ أَنبَاء الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ مَا كُنتَ تَعْلَمُهَا أَنتَ وَلاَ قَوْمُكَ مِن قَبْلِ هَـذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ ﴿٤٩﴾

    040.
    Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.” Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.

    041.
    Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    042.
    Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.”

    043.
    Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

    044.
    Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” Dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.”

    045.
    Dan Nuh berseru kepada Rabbnya sambil berkata: “Ya Rabbku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.”

    046.
    Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”

    047.
    Nuh berkata: “Ya Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat) nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.”

    048.
    Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mu’min) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.”

    049.
    Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.
    Q.S. Huud: 40 – 49.

    ❗PERHATIKAN bimbingan ilahi di akhir kisah: “Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

    🎙Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy –rahimahullah- berkata dalam tafsirnya:

    فاحمد الله، واشكره، واصبر على ما أنت عليه، من الدين القويم، والصراط المستقيم، والدعوة إلى الله {إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ} الذين يتقون الشرك وسائر المعاصي، فستكون لك العاقبة على قومك، كما كانت لنوح على قومه.

    ☝🏻Maka pujilah Allah dan bersyukur kepada-Nya -serta bersabarlah atas apa yang ada padamu- dari agama yang lurus, jalan yang mustaqim, dan berdakwah kepada Allah ”sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa” yang mereka membentengi diri dari kesyirikan dan seluruh kemaksiatan.

    👉🏻Maka kesudahan yang baik kelak akan ada padamu di atas kaummu, sebagaimana telah terjadi pada Nabi Nuh atas kaumnya.”

    📖 Taisiirul Kariimir Rahman, As-Sa’diy, hal. 430


  • WAHAI KAUM MUSLIMIN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH , BERDO’ALAH UNTUK KEBAIKAN ISLAM DAN NEGERI INI

    PENTING DAN MENDESAK

    Mengingatkan Ahlus Sunnah wal jama’ah, untuk banyak-banyak berdo’a demi keselamatan agama dan negeri ini dari fitnah dan petaka, Terutama pada hari-hari yang berat saat ini.

    🍋 Semoga Allah menjaga dan memberikan kebaikan untuk pemerintah Indonesia.
    Semoga Allah memberikan untuk negeri dan rakyat Indonesia para pemimpin yang beriman dan bertaqwa, ikhlash, jujur, amanah, serta cinta kepada Islam dan muslimin.

    ⛵ Gunakanlah kesempatan qiyamullail antum pada hari-hari ini khususnya untuk banyak-banyak berdo’a dan bermunajat kepada Allah, di samping pada waktu-waktu mustajabah lainnya.

    ✅ Semoga kita termasuk dalam hadits berikut :

    🌧🌨 *Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda *:

    «إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلاتِهِمْ وَإِخْلاصِهِمْ»

    (رواه النسائي، وصححه الألباني).

    “Hanyalah Allah akan menolong umat ini dengan orang-orang lemah di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka.”
    (HR. an-Nasa’i, dishahihkan oleh al-Albani)

    ⛱📂 Di antara Contoh Do’a :

    🌷 اللهم أصلح ولاة أمورنا، اللهم أصلح ولاة أمورنا، اللهم وفقهم لما فيه صلاحهم وصلاح الإسلام والمسلمين
     
    “Ya Allah perbaikilah kondisi pemerintah kami, Ya Allah perbaikilah kondisi pemerintah kami. Ya Allah beri taufiq mereka kepada apa yang padanya terdapat kebaikan Islam dan muslimin.”

    🍋 اللهم أعنهم على القيام بمهامهم كما أمرتهم يا رب العالمين،
    “Ya Allah tolonglah mereka untuk melaksanakan tugas-tugas mereka sebagaimana yang Engkau perintahkan wahai Rabbul Alamin.”

    🍊 اللهم أبعد عنهم بطانة السوء والمفسدين،
    وقرب إليهم أهل الخير والناصحين يا رب العالمين

    “Ya Allah jauhkanlah dari mereka teman-teman yang jelek dan para perusak. Dekatkanlah kepada orang-orang baik dan pemberi nasehat, wahai Rabbul Alamin.”

    🌷 اللهم أصلح ولاة أمور المسلمين في كل مكان
     
    “Ya Allah perbaikilah kondisi pemerintah kaum muslimin di semua tempat.”

    🍒 اللهم احفظ علينا أمننا واستقرارنا في ديارنا، اللهم لا تسلط علينا بذنوبنا من لا يخافك ولا يرحمنا

    “Ya Allah jagalah keamanan dan ketenangan kami di negeri kami.
    Ya Allah janganlah Engkau jadikan berkuasa kepada kami orang-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak menyayangi kami, gara-gara dosa-dosa kami.”

    💦 اللهم اجعل لنا ولهذا البلاد أئمة أتقياء، مخلصين وصادقين، الذين يحبون الإسلام والمسلمين ويدافعون عنهم
    “Ya Allah, jadikanlah untuk kami dan untuk negeri ini para pemimpin yang bertaqwa, yang ikhlash dan jujur, yang mencintai Islam dan kaum muslimin, serta membela kaum muslimin.”
     
    🛡 اللهم قنا شر الفتن ما ظهر منها وما بطن

    “Ya Allah lindungilah kami dari kejelekan berbagai fitnah, yang tampak maupun yang tidak tampak.”

    #mendoakaan_kebaikan_pemerintah

    •••••••••••••••••••••
    Sumber: https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
    💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

  • Ajari Anak Meminta Izin Ketika Masuk Ke Kamar Orang Tuanya

    KAPAN WAKTU ANAK-ANAK MINTA IZIN UNTUK MASUK KETEMPAT KEDUA ORANG TUANYA

    Asy Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz Ibnu Baz rahimahullah

    Pertanyaan:
    Wahai Syaikh Yang mulia pertanyaan saya juga berkaitan dengan permasalahan minta izin, kapan anak-anak mulai minta izin untuk menemui orang tua mereka.

    Jawaban: 

    Perkara ini telah dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala didalam surat An-Nur.

    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

    يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِيَسْتَـْٔذِنكُمُ ٱلَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ وَٱلَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا۟ ٱلْحُلُمَ مِنكُمْ ثَلَٰثَ مَرَّتٍۢ ۚ مِّن قَبْلِ صَلَوٰةِ ٱلْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ ٱلظَّهِيرَةِ وَمِنۢ بَعْدِ صَلَوٰةِ ٱلْعِشَآءِ ۚ ثَلَٰثُ عَوْرَٰتٍۢ لَّكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌۢ بَعْدَهُنَّ ۚ طَوَّفُونَ عَلَيْكُم بَعْضُكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍۢ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلايَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌۭ ﴿النور : ۵۸﴾

    Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah hamba sahaya (laki-laki dan perempuan) yang kalian miliki, dan orang-orang yang belum baligh (dewasa) di antara kalian meminta izin kepada kalian pada tiga waktu (kesempatan) yaitu, sebelum shalat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari, dan setelah shalat Isya. (Itulah) tiga aurat (waktu) bagi kalian. Tidak ada dosa bagi kalian dan tidak (pula) bagi mereka selain dari (tiga waktu) itu; mereka keluar masuk pada kalian, sebagian kalian atas sebagian yang lain. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat itu kepada kalian. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana (An-Nur: 58)

    Kemudian di ayat yang setelahnya Allah berfirman:

    وإذا بلغ الأطفال منكم  الحلم فليستأذنوا

    Apabila anak-anak kalian sudah mencapai usia baligh hendaklah mereka minta izin (An-Nur: 59)

    Mereka (anak-anak) ketika belum baligh,  diperintahkan untuk minta izin pada tiga waktu (yang telah disebutkan dalam ayat),

    Adapun setelah mereka baligh, mereka minta izin setiap mereka hendak masuk,

    Diantara tanda-tanda baligh adalah :

    • Mencapai usia lima belas tahun,
    • Tumbuhnya rambut yang kasar disekitar kemaluan, 
    • Keluarnya mani disertai syahwat

    Maka (ketika dalam keadaan seperti ini) dia telah mencapai usia baligh, dia (harus) minta izin setiap kali ingin masuk(ketempat orang tuanya), Yang dimaksud dengan minta izin kepada mereka adalah agar seseorang tidak datang dengan mengejutkan mereka dalam keadaan mereka tidak ridha (untuk dilihat), Adapun apabila usia mereka dibawah baligh, maka minta izin pada aurat yang tiga (saja).

    Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu ‘Umar غفرالرحمن له.

    Channel telegram: https://t.me/alfudhail

  • 14 Poin Mengapa Memilih Poligami

    POLIGAMI ATAUKAH MONOGAMI

    Poligami adalah menikah lebih dari satu istri dan merupakan lawan dari monogami yaitu beristri satu, poligami adalah ajaran syariat yang banyak dimusuhi masyarakat dan banyak dicela.

    Ini adalah realita yang ada di masyarakat muslim, yang mengklaim cinta rasulullah alahi sholatu wassalama, hal ini merupakan kesamaan mereka dengan orang-orang kafir (mencelah poligami), untuk itu saya akan menggambarkan sebagian masalah poligami ini…diantaranya :

    1. KISAH POLIGAMI

    Para nabi melakukan poligami, sebagaimana nabi Sulaiman alaihissalama pernah menyetubuhi 90 istri dalam satu malam, dan Allah menganugrahi kekuatan yang luar biasa dalam berjima’, dan Rasulullah mempunyai 11 istri, keadaan ini menunjukkan antusias para nabi menikah lebih dari satu.

    2. KEKUATAN JIMA’ LELAKI

    Kekuatan jima ‘ para suami berbeda-beda dari sisi kemampuan, seperti rasulullah alaihi sholatu wassalama mempunyai kekuatan sebanding dengan 30 laki-laki dan kisah IBNU UMAR radhiyallahu ‘anhuma beliau pernah berbuka puasa dengan melakukan jima’ (maksudnya pembatalan puasa beliau dengan jima’ setelah waktu magrib), dan di biografi ABDUL AZIZ bin Rufa’i ketika menikahi seorang wanita, hampir setiap wanita yang dinikahinya meminta cerai karena tidak mampu melayani beliau untuk melakukan jima’, karena quantitas beliau dalam berjima’ yang banyak.

    3. PERINTAH POLIGAMI

    Allah ta’ala  mengetahui keadaan hambanya kemudian memerintahkan poligami, dan ini merupakan kemudahan dari Allah ta’la terhadap hambanya dengan  memerintahkan poligami ini , dan poligami merupakan asal pernikahan, sebagaimana di sebut di sebuah ayat :

    ﻓﺎﻧﻜﺤﻮﺍ ﻣﺎ ﻃﺎﺏ ﻟﻜﻢ ﻣﻦ اﻟﻨﺴﺎﺀ ﻣﺜﻨﻰ ﻭثلاث ﻭﺭباع ﻓﺈﻥ ﺧﻔﺘﻢ أﻟﺎ ﺗﻌﺪﻟﻮﺍ ﻓﻮﺍﺣﺪﺓ 1

    “nikahilah wanita-wanita yang baik : dua, tiga atau empat, kalau kalian takut tidak bisa berlaku adil maka nikahilah satu wanita.”

    Ayat ini menunjukkan asal pernikahan adalah poligami bukan monogami, namun bagi orang yang khawatir tidak bisa berlaku adil maka cukup menikah dengan satu wanita.

    4. SYARAT POLIGAMI

    Para ulama mensyaratkan poligami dengan tiga syarat :*
    1) sehat jasmani (mampu melakukan jima’),
    2) mampu harta,
    3) mampu berbuat adil.

    Para ulama tidak memasukkan izin istri dan izin orang tua sebagai syarat, namun dalam masalah ini ada beberapa keadaan  kalau orang tua melarang :

    Jika dia bisa menahan dari berbuat maksiat (berhubungan dengan wanita)  maka yang afdhol dia mentaati orang tua, namun tetap berbicara terhadap orang tua masalah hukum poligami ini dengan lemah lembut dan mencari waktu yang tepat.

    Jika syahwat seorang tersebut besar dan dia khawatir bermaksiat, kemudian dia mempunyai keinginan yang menggebu-ngebu untuk poligami, maka yang afdhol dia berpoligami walau tanpa izin orang tua.

    Para ulama memberi syarat ini untuk memudahkan kaum muslimin mengukur dirinya masing-masing, karena sunggu akan bermadhorot orang yang tidak mampu berjima’ melakukan poligami, baik karena tuanya dia atau karena penyakit, atau orang yang tidak mampu secara ekonomi memaksakan poligami dan dia tidak mampu mencukupi keluarganya, sehingga waktunya digunakan bekerja siang dan malam, kemudian dia jauh dari dzikir kepada Allah ta’ala dan dengan waktu yang singkat terjadi perceraian dengan salah satu istrinya, bahkan bercerai dengan keduanya, naudzu billah min dzalik.

    5. ADIL DALAM POLIGAMI

    Definisi adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, maka suami wajib adil kepada setiap istrinya baik pembagian hari, atau pemberian maisyah (bukan nilainya tapi sesuai kebutuhan) misal istri pertama mempunyai 10 anak dan istri kedua mempunyai 5 maka pemberian belanja bulanan boleh berbeda berdasarkan kebutuhan, karena makna adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, misal dikasus lain; istri ke dua ingin beli baju seharga Rp.300.000 dan istri pertama ingin beli baju seharga 100rb  maka masing-masing istri di beri uang Rp 300,000, jadi selesai perkara.

    6. ADIL DALAM CINTA

    Tidak disyaratkan adil di dalam cinta, karena hati milik Allah ta’ala, sebagaimana seseorang yang mempunyai banyak anak namun dia lebih mencintai salah satunya, maka ini tidak dilarang karena ini amalan hati, namun dia tetap wajib berbuat adil di masalah-masalah yang lain terhadap anaknya.

    Dalil :

    ﻭﻟﻦ تستطعوا ﺃﻥ ﺗﻌﺪﻟﻮﺍ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻭﻟﻮ ﺣﺮﺻﺘﻢ ﻓﻠﺎ ﺗﻤﻴﻠﻮﺍ ﻛﻞ ﺍﻟﻤﻴﻞ 2.

    “Kalian tidak akan mampu berbuat adil diantara istri-istri kalaian walaupun kalian berusaha…”

    Yang dimaksud dalam ayat ini tidak mampu adil dalam cinta.

    7. KESUKAAN NABI صلى الله عليه وسلم

    Seseorang menyukai wanita lebih dari satu bukanlah merupakan aib, namun mencontoh rasulullah salallahu alai sholatu wassalama, sebagaimana di sebuah hadis :

    ﺣﺒﺐ ﺇﻟﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ : ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻭﺍﻟﻂﻴﺐ و ﺟﻌﻠﺖ ﻗﺮﺓ ﻋﻴﻨﻲ ﻓﻲ الصلاة

    ”dijadikan cinta kepadaku dalam  urusan dunia yaitu para wanita dan wewangian dan dijadikan penyejuk mataku di dalam sholat.”

    Hadist ini dalam keadaan hasan.

    8. SYAHWAT PRIA

    Syahwat manusia atau pria terhadap lawan jenisnya adalah sunatullah dan dalam masalah ini syariat mengatur pula, karena adakalanya dengan syahwat ini manusia ada yang menyalurkan dengan cara yang haram dan adakalanya dengan cara yang halal, sungguh mengagumkan rasulullullah sholatu wassalam dalam kesibukannya dalam berdakwah, ilmu dan ibadah namun beliau mempunyai hasrat biologis yang besar untuk para istrinya dan inilah ciri-ciri  orang bertaqwa…sebagaimana disebutkan oleh ibnu Hajar :

    ﻭﻳﻘﺎﻝ : ﺇﻥ ﻛﻞ ﻣﻦ ﺍﺗﻘﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺸﻬﻮﺗﻪ أشد ﻟﺄﻥ  ﺍﻟﺬﻱ ﻟﺎ ﻳﺘﻘﻲ ﻳﺘﻔﺮﺝ ﺑﺎﻟﻨﻆﺮ ﻭﻧﺤﻮﻩ.3

    “dikatakan : Sesungguhnya setiap orang  bertaqwa syahwatnya sangat besar (kepada para istrinya) karena orang-orang yang tidak bertaqwa mengumbar nafsu farjinya dengan memandang atau yang lainnya_ (memandang wanita ajnabiyah).

    9. ALI BIN ABI THOLIB TIDAK BERPOLIGAMI

    Sahabat ali bin Abi Tholib رضي الله عنه tidak berpoligami ketika menikahi fatimah bintu Muhammad alaihi sholatu Wassalam, *dan ini menjadi senjata atau dalil bagi orang-orang yang anti poligami*,
    maka untuk meluruskan pemahaman mereka yang salah ini, ada tiga jawaban :
    a. Fatimah rodiallahuanha adalah penghulu wanita semesta alam, maka dengan kedudukan yang tinggi ini ali tidak melakukan poligami.
    b. Sebab kekhususan rasulullah sallallahu alaihi wassalam, dan Fatimah radhiyallahu anhu anak beliau, maka tidak terlalu jauh kalau dikatakan ini kekhusususan Fatimah karena anak beliau, sebagaimana dikatakan oleh beliau

    ﺇﻧﻤﺎ ﻫﻲ ﺑﻀﻌﺔ ﻣﻨﻲ

    _“Sesungguhnya dia bagian dariku “._

    c. Sesungguhnya ali menikahi wanita lain setelah wafatnya Fatimah bintu rasulullah, dan sahabat adakalanya melakukan poligami di zaman rasulullah hidup dan adakalanya setelah beliau wafat.

    10. IZIN NEGARA

    Negara RI mengizinkan poligami bagi laki-laki dengan syarat-syarat yang ditentukan dan sebab-sebab yang dibolehkan, antara lain :
    a) Istri tidak bisa melayani suami, sebagaimana layaknya seorang istri.
    b) Istri tidak mampu memberikan keturunan.
    c) Istri mempunyai penyakit berat tertentu.
    d) Suami memberikan alasan tertentu yang diterima oleh *PENGADILAN AGAMA*.

    11. Surat Nikah bagi Pelaku poligami.

    Dalam pengurusan surat nikah untuk poligami adalah mudah bagi orang-orang yang dimudahkan Allah ta’ala dan ini merupakan aplikasi ahlu sunnah mengamalkan usul ahlu sunnah, yaitu ta’at kepada pemerintah, untuk itu syarat-syrat administrasi yang harus dipenuhi :
    a)  surat  dari RT.
    b)  surat keterangan dari RT/perusahaan, tentang penghasilan perbulan.
    c)  foto copy KTP.
    d)  foto copy KK.
    e )  Foto copy tabungan di  rekening bank.
    f )  Foto copy STNK dan BBKB kendaraan.
    g)  Foto copy sertifikat/akte jual beli tanah atau rumah.
    h)  Surat pernyataan dari istri pertama setuju suaminya poligami.
    i)  Surat pernyataan dari calon istri kedua setuju di poligami.
    j)  Membayar biaya administrasi sekitar Rp.620.000
    k)  Semua ini diserahkan ke Pengadilan Agama.

    12. PROSES di PENGADILAN

    Selama dalam proses pengadilan pemohon (suami) menyerahkan syarat-syarat administrasi tersebut, insyallah proses sidang selama 2 bulan, dengan enam kali pertemuan dalam sidang, dan sekali sidang memakan waktu stengah jam (kurang lebih). Selama sidang ada beberapa proses :

    a) Istri pertama selalu hadir.
    b) Calon istri kedua akan dihadirkan namun hanya sekali (kalau tidak dihadirkan maka proses pengadilan akan memakan waktu 1 tahun -kurang lebih-).
    c) Mereka akan di serbu pertanyaan oleh pengadilan, maka jawaban yang tepat adalah jawablah dengan jawaban yang tidak menimbulkan pertanyaan lagi dari dewan hakim.
    d) Akan diminta 2 saksi oleh pihak pengadilan agama.
    e) InsyaAllah berhasil.

    13. PROSES SELANJUTNYA

    Setelah surat izin poligami dikeluarkan oleh Pengadilan Agama maka kita serahkan ke Kantor Urusan Agama (KUA) dalam rangka mengurus pindah nikah, setelah memperoleh surat pindah nikah, maka surat ini kita serahkan kepada calon mempelai wanita, maka setelah pernikahan keluarlah surat nikah kita dengan istri kedua.

    14. Status surat Kartu Keluarga (KK)

    Kartu Keluarga bisa dibuat dengan satu kepala keluarga dan dua istri, karena Nomor Induk Keluarga wajib dimiliki satu orang, maka suami yang mempunyai dua KK dan kepala keluarganya atas nama suami maka dia melanggar aturan dan ini menunjukkan  tidak taatnya dia kepada waliatulamr (pemerintah) yang hal ini merupakan usul ahli sunnah.

    Di bolehkan oleh negara istri kedua menjadi kepala keluarga sehingga Kartu Keluarganya ada dua, namun kepala keluarganya adalah istri kedua, sehingga nama suami tidak tercantum.

    Ini sekilas tentang poligami dan bagi kaum muslimin  yang berpoligami hendaklah berbuat ADIL, karena dengan berbuat adil bisa menyebabkan keharmonisan di dua keluarga insyallah, dan sebagaimana dikatakan oleh ibnu abbas  _“sebaik-baik kalian adalah yang banyak istrinya”._

    Amal poligami ini adalah ibadah maka diperlukan ikhlas karena menjalani perintah Allah ta’ala dan perbuatan yang bisa menyenangkan rasulullah dari sisi banyaknya keturunan, karena rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam akan berbangga-bangga pada hari kiamat dengan banyaknya umat beliau.

    Ibadah poligami ini perlu diamalkan karena banyaknya para gadis serta janda-janda yang belum mempunyai suami, untuk masalah poligami ini kita harus menjadi golongan pertengahan yaitu tidak meremehkan dan tidak pula menjadi penakut menjadi pelaku poligami.

    Sunggu menarik perkataan seseorang:

    “Adalah biasa seseorang dicemburuin seorang istri dan baru dikatakan luar biasa kalau dicemburuin lebih dari seorang istri .”

    Barakallahu fiikum, semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis dan menjadi timbangan kebaikan di hari kiamat dan bisa memberi manfaat bagi kaum muslimin dan muslimat.

    أﺧﻮﻛﻢ ﻧﻮﻓﻞ ﺑﻦ مسعود

    Maroji’ :
    Info dari Pengadilan Agama

    – ﺍﻟﺘﻘﺮﻳﺮ ﺍﻟﻤﺆﻛﺪ ﺑﺎﻟﺈﺟﺎﺑﺔ ﻋﻠﻰ ﺛﻠﺎﺛﻴﻦ ﺳﺆﺍﻟﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻌﺪﺩ
    ﻟﻔﻀﻴﻠﺔ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﻴﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﺍﻟﺠﺎﺑﺮﻱ
    – ﺯﺍﺩ ﺍﻟﻤﻌﺎﺩ ﻟﺈﺑﻦ ﻗﻴﻢ الجوزي
    – (1) ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ : 3
    – (2) ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ : 129
    -(3) ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﻟﻠﺠﻨﺔ ﺍﻟﺪﺍﺉﻣﺔ ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻋﺔ ﺍﻟﺄﻭﻟﻰ ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺳﻮﺭﺓ (ص)
    ﻗﻮﺓ ﻧﺒﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﻭﻃﻮﺍﻓﻪ ﻋﻠﻰ ﺗﺴﻌﻴﻦ ﺇﻣﺮﺍﺓ

    ••——————————————————••
    Dipublikasi oleh : GRUP KHUSUS MEMBAHAS POLIGAMI

    Join channel https://t.me/maximal4
    Join grup whatsapp, silahkan inbox salah satu link dibawah ini ( syarat dan ketentuan berlaku )👇🏿
    https://is.gd/admkmp
    https://is.gd/admkmp3

    Kunjungi website kmp, klik http://kmp.salafymedia.com

Close
Close