Dakwah & Tarbiyah

Syaikh Ali Hasan dalam bukunya berkata bahwa : “Tidak akan sempurna tazkiyah (pembersihan) kecuali dengan tarbiyah dan tidak akan sempurna ilmu kecuali dengan tashfiyah.”

  • Imam Abu Dawud : Membeli Surga dengan 1 Dirham

    Oleh : Al Ustadz Abu Amr As Sidawy

    Sunan Abu Dawud, siapa yang tidak kenal kitab ini? Kitab yang disusun untuk mengulas pembahasan hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan urutan bab-bab fikih. Kitab ini termasuk di antara enam kitab induk yang menjadi rujukan dalam membahas hadis.

    Semua kalangan pasti kenal kitab ini. Tentunya ketenaran kitab ini tidak lepas dari sosok penyusunnya. Ya, beliau adalah Al Imam Sulaiman bin Al Asy’ats As Sijistaany yang lebih dikenal dengan kunyahnya Al Imam Abu Dawud rahimahullah.
    Beliau lahir pada tahun 202 H. Beliau dikenal akan keilmuan dan ketakwaannya. Beliau menjadi rujukan umat di masanya. Beliau memiliki pengetahuan yang luas dalam berbagai macam bidang ilmu. Para ulama di masa itu banyak memberikan pujian untuk beliau. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal, tokoh mazhab Hambali pernah meriwayatkan satu hadis dari Imam Abu Dawud.

    Imam Abu Bakar Al Khallal rahimahullah, salah seorang imam di masa itu pernah berkata tentang Al Imam Abu Dawud, “Abu Dawud adalah seorang imam yang sangat menonjol di masanya. Tidak ada satupun di masa itu yang mengungguli keilmuannya. Beliau adalah imam yang sangat bertakwa dan taat.”

    Apakah Anda pernah mendengar istilah “Jihbidz”? Ya, itu adalah gelar bagi para ulama pakar hadis yang memiliki kemampuan khusus dalam hal menilai kesalahan-kesalahan hadis yang sangat samar. Ulama hadis sangatlah banyak, namun tidak semua memiliki kemampuan untuk bisa mengetahui penyakit hadis yang sangat samar. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu.

    Dan ternyata kemampuan itu dimiliki oleh Al Imam Abu Dawud rahimahullah. Hal itu sangat nampak dari pujian para ulama yang diberikan kepada beliau. Berkata Ahmad bin Muhammad bin Yaasiin rahimahullah, “Abu Dawud adalah penjaga Islam yang sangat mengerti hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dari sisi sanad maupun penyakit-penyakitnya. Beliau adalah imam yang sangat rajin dalam beribadah. Sangat menjaga kehormatan diri. Imam yang saleh dan bertakwa. Pakarnya ilmu hadis.”
    Ketika beliau menyusun kitab sunannya, semua kalangan menerima kitab tersebut. Bahkan mereka mengakui bagaimanakah keilmuan beliau dengan kitab itu. Berkata Muhammad bin Ishaq Ash Shaaghaani dan Ibrahim Al Harbi, “Ketika Abu Dawud menyusun kitab sunannya, seakan hadis ditundukkan untuk beliau. Sebagaimana besi ditundukkan untuk Nabi Dawud ‘alaihis salam.”

    Berkata Muhammad bin Makhlad rahimahullah, “Ketika beliau menyusun kitab sunannya, beliau membacakannya kepada umat manusia. Para ulama hadis menganggap kitab beliau seperti mushaf. Mereka mengikutinya dan tidak menyelisihinya. Semua orang di masa beliau mengakui hafalan dan keunggulan beliau.”

    Suatu hari Sahl bin Abdillah Attustary datang mengunjungi Imam Abu Dawud. Seseorang berkata, “Wahai Abu Dawud, Sahl datang menemuimu.” Maka beliau pun menyambutnya dengan hangat dan meminta beliau untuk duduk bersamanya.
    Sahl berkata, “Wahai Abu Dawud, aku memiliki kebutuhan denganmu.”
    “Apa itu?” Tanya Abu Dawud.
    “Engkau harus berjanji akan memenuhinya.” Tegas Sahl.
    “Ya.” Jawab Abu Dawud.
    “Keluarkan lisanmu yang engkau gunakan untuk membaca hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku ingin menciumnya.” Pinta Sahl. Beliau pun mengeluarkan lisannya dan Sahl pun menciumnya.
    Subhaanallah, begitulah sikap hormat para ulama di masa itu kepada para pembawa hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Hingga ada sebagian yang berlebihan dalam memuji beliau sampai mengatakan, “Abu Dawud diciptakan di dunia untuk mengkhidmat hadis. Dan diciptakan di akhirat untuk surga.”

    Beliau juga memiliki sikap adil dan ketegasan. Abu Bakar bin Jabir pembantu Abu Dawud pernah bercerita, “Suatu hari aku pernah bersama Abu Dawud di Kota Baghdad. Kami salat Maghrib di sana. Setelah itu datanglah Abu Ahmad Al Muwaffaq seorang amir (gubernur). Abu Dawud menyambutnya dan berkata, “Tidak biasanya seorang amir datang di waktu seperti ini.”
    Dia menjawab, “Aku datang dengan membawa tiga hal.”
    “Apa itu?” Tanya Abu Dawud.
    Sang amir berkata, “Engkau harus pindah ke Bashrah dan tinggallah di sana. Agar para pencari ilmu datang berguru kepadamu. Sehingga Kota Bashrah menjadi kembali makmur. Karena Bashrah sekarang hancur dan ditinggal oleh manusia, setelah terjadi fitnah besar di sana.”
    “Ini yang pertama.” Tanggap Abu Dawud.
    Sang amir berkata lagi, “Aku minta engkau membacakan kitab sunanmu untuk anak-anakku.”
    “Ya, sebutkan yang ketiga!”
    Sang amir berkata, “Aku memintamu untuk mengajari mereka secara khusus. Karena anak-anak khalifah tidak bisa duduk bersama orang-orang umum.”
    Dengan tegas Abu Dawud menolak dan berkata, “Kalau ini aku tidak bisa mengabulkannya. Semua manusia sama dalam hal mencari ilmu.” Anak-anak sang amir akhirnya hadir di majelis Abu Dawud, mereka duduk dengan memakai baju yang melingkar dan memiliki penutup. Mereka duduk dengan masyarakat umum yang lain. MasyaAllah, begitulah ilmu mengangkat derajat pemiliknya.

    Ada sebuah kisah yang sangat menakjubkan dari beliau. Sebagai bukti akan ketakwaan beliau dan ketaatan beliau dalam menjalankan sunnah dan ibadah. Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah penulis kitab Fathul Baari berkata, “Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dengan sanad yang baik dari Abu Dawud rahimahullah penyusun kitab Sunan. Suatu hari beliau (Abu Dawud) sedang naik kapal. Tiba-tiba beliau mendengar seseorang bersin di seberang dermaga, kemudian orang ini membaca Alhamdulillah. Segera Abu Dawud menyewa sampan kecil dengan tarif satu dirham. Beliau mendayungnya hingga menghampiri lelaki tadi, kemudian beliau membaca, ‘yarhamukallah.’ Setelah itu beliau kembali ke tempat semula.
    Beliau ditanya mengapa bersusah payah menyewa sampan kecil hanya untuk menanggapi orang yang bersin. Beliau menjawab, “Siapa tahu orang tadi memiliki doa yang dikabulkan.”
    Maksud beliau ketika dia berdoa untuk Abu Dawud, harapan beliau Allah mengabulkannya. Ketika waktu malam tiba, semua penduduk kapal tertidur. Tiba-tiba mereka mendengar seseorang berkata, “Wahai penghuni kapal, sungguh Abu Dawud telah membeli surga dari Allah dengan satu dirham.”
    MasyaAllah, alangkah semangatnya beliau dalam beribadah kepada Allah, bahkan dengan hal yang remeh sekalipun beliau berupaya untuk bisa menjalankannya. Semoga Allah merahmati beliau.

    Beliau meninggal pada tanggal enam belas bulan Syawwal tahun dua ratus tujuh puluh lima. Semoga Allah merahmati beliau. Kita memohon kepada Allah taufik dan hidayah untuk bisa meniru dan meniti jejak ulama kita dalam membela sunnah, menyebarkannya, dan mendakwahkannya. Amin.

    Disadur dari kitab Siyar A’laamun Nubala’ karya Al Hafizh Adz Dzahabi dan dari kitab Karaamaatul Auliya karya Abdur Raqib Al Ibbi.

    Sumber:
    Majalah Qudwah edisi 69 vol.06 1440 H rubrik Ulama.

  • Bolehkah Membaca Kitab-Kitab Orang-Orang Menyimpang yang Ditulis Sebelum Menampakan Penyimpangannya (DiTahdzir Oleh Ulama)

    ASY-SYAIKH RABI’ BIN HADY AL-MADKHALY HAFIZHAHULLAH

    Pertanyaan:
    Sebagian orang yang dibicarakan (dibantah kesalahannya dan ditahdzir –pent) memiliki kitab-kitab, maka sebagian manusia ada yang menanyakan apakah boleh memanfaatkan kitab-kitabnya sebelum orang-orang yang menyimpang itu dibantah dan sebelum nampak penyimpangannya dari manhaj Salaf, maksudnya apakah kitab-kitabnya yang lama boleh dimanfaatkan?

    Jawaban:

    بسم الله الرحمن الرحيم
    ال حْ مَ دْ لله و اِلص لَّا ةَ و اَلس لَّا مَ ع لَ ىَ ر سَ وُ لْ اللهِ
    و عَ لَ َى آل ِه و صَ َح بْ هِ و مَ َن ات بَّ َع ه ُد اَه أ مَ َّا
    :ب عَ دُْ

    Sebagai jawaban atas pertanyaan ini saya katakan:
    Jika orang yang kalian sebutkan ini dia memiliki kitab-kitab di atas manhaj Salafus Shalih dari sisi akidah, dakwah, dan manhaj, dan padanya tidak terdapat cacat, maka dilihat dulu penyimpangannya. Jika hal itu berupa ketergelinciran sebagian ulama atau ketergilinciran para ulama yang masih diharapkan taubatnya dan meninggalkan kebathilannya, maka ketergelincirannya ini dimintakan ampunan, diharapkan kebaikan untuknya, dan tidak terburu-buru menyikapinya.

    Namun jika dia adalah orang yang telah menyebar kejahatannya, membahayakan, membangkang, menyombongkan diri, dan enggan untuk kembali kepada jalan yang benar, maka orang semacam ini diantara bentuk hukuman terhadapnya adalah dengan tidak menerima kebenaran darinya (maksudnya tidak membaca kitabnya, tidak mendengar kasetnya, dan tidak belajar kepadanya, bukan berarti menyatakan bathil jika dia bicara yang benar –pent).
    Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian Salaf:
    “DIANTARA HUKUMAN AHLI BID’AH ADALAH DENGAN TIDAK MENERIMA KEJUJURAN MEREKA.”

    Kita tidak butuh terhadap mereka, karena sudah cukup dengan Kitab Allah, Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam, serta warisan yang banyak dan agung yang telah ditinggalkan untuk kita oleh para pendahulu kita dalam semua bidang, apakah akidah, manhaj, akhlak, hukum halal haram, dan yang semisalnya. Manusia bersegera dan lebih suka mendatangi sesuatu yang baru, padahal sesuatu yang baru itu terkadang mengandung bencana dan musibah.

    Maka yang pertama kali hendaknya kalian berada pada tingkatan pertama, yaitu dengan mempelajari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi was sallam karena pada keduanya terdapat petunjuk dan cahaya dan telah mencukupi. Kemudian dengan riwayat-riwayat dari Salaf yang berporos pada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam. Kemudian disertai dengan upaya mengokohkan manusia di atas kandungan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu‘alaihi was sallam dalam perkara-perkara akidah dan manhaj, dan itu sangat banyak sekali.

    Jadi hendaknya kalian menimba ilmu darinya (Al-Qur’an, As- Sunnah dan riwayat Salaf) walhamdulillah. Karena sesungguhnya dikhawatirkan terhadap seorang penuntut ilmu jangan sampai dia diculik oleh orang-orang yang pura-pura menampakkan manhaj Salaf, kemudian Allah nampakkan hakekat mereka dan Allah bongkar tujuan busuk mereka.

    Hal semacam ini telah banyak terjadi di masa ini. Ada orang-orang yang lahiriyahnya di atas manhaj Salaf, kemudian setelah malam dan hari berganti serta terjadi berbagai peristiwa, tiba-tiba tersingkaplah keadaan mereka. Kita tidak tahu apakah dahulu mereka benar-benar di atas kebenaran dan merasa puas dengan manhaj Salaf?! Ataukah mereka hanya berkedok saja?! Allah saja yang mengetahui hakekat keadaan mereka.

    Maka orang-orang yang semacam mereka itu saya berpendapat untuk tidak merasa butuh kepada mereka dan tidak perlu bersedih karena merasa kehilangan mereka dan apa yang telah mereka usahakan. Pada kita ada yang telah mencukupi walhamdulillah.
    Hanya kepada Allah saja saya memohon agar mengokohkan kami dan kalian di atas kebenaran serta menjauhkan kami dan kalian dari berbagai fitnah yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya Rabb kita Maha Mendengarkan doa.

    و صَ لَ ىَّ الله ع لَ ىَ ن بَ يِ نِّ اَ م حُ مَ دَّ و عَ لَ ىَ آل هِِ
    .و صَ حَ بْ هِ و سَ لَ مََّ

    Sumber:
    http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=143439

  • Bolehkah Mengambil yang Termudah Ketika Ada Perbedaan Pendapat Diantara Para Ulama

    Asy-Syaikh Muqbil bin Hady Rahimahullah

    Pertanyaan:
    Ketika ada perbedaan pendapat di kalangan ulama pada suatu masalah, apakah boleh bagi seseorang untuk mentarjih diantara pendapat pendapat mereka dan mengambil yang sesuai dengan dirinya, padahal orang tersebut bukan termasuk orang yang ahli di dalam mentarjih, dan apakah hal ini termasuk perbuatan mencari-cari rukhshah (keringanan)?

    Jawaban:
    Ini adalah perkara yang penting, sebagian orang-orang Al-Azhar racun-racun mereka telah menebar di negeri-negeri Islam dan mereka pernah berbicara semisal dengan hal ini di al-Jami’ah al-Islamiyyah, yaitu bahwasanya jika muncul sebuah perkara maka dilihat perkataan-perkataan para ahli fikih, kemudian diambil yang paling mudah bagi manusia, dan seakan-akan kita diberi kebebasan memilih di dalam agama Allah, padahal perkataan-perkataan para ahli fikih bukanlah hujjah. Tetapi barangsiapa yang mmeiliki kemampuan untuk melihat dalil-dalil dan perkataan-perkataan mereka, kemudian dia mentarjih sesuai tuntutan dalil, maka dia boleh melakukannya. Kalau tidak demikian maka Rabbul ‘Izzah berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia:

    ف اَس أْ لَ وُ اْ أ هَ لْ الذ كِّ رْ إ نِ ك نُ تْ مُ لا ت عَ لْ مَ وُ نَْ

    [“Maka bertanyalah kepada para ulama jika kalian tidak mengetahui.”
    (QS. An-Nahl: 43]

    Adapun sikap main-main yang dilakukan oleh banyak orang-orang Al-Azhar dengan memilih apa yang sesuai dan cocok dengan realita dan selera manusia, maka ini tidak benar Dan para ulama telah mengatakan:
    “Mencari-cari rukhshah adalah perbuatan zindiq (kekafiran).”
    Jadi wajib untuk mengambil pendapat yang sesuai dengan tuntutan dalil, kalau dia tidak mampu maka hendaklah dia bertanya kepada ahli ilmu tentang dalilnya.

    Fadha-ih wa Nasha-ih, hal. 121-123
    Sumber: http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=3474

    الشيخ مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله
    السؤال:
    عند اختلاف العلماء في مسألة هل للشخص أن يرجح بين أقوالهم ويأخذ
    ما يناسبه مع أنه ليس من أهل الترجيح وهل هذا يعد من تتبع الرخص؟
    الإجابة:
    هذا أمر مهم؛ فبعض الأزهريين بثت سمومهم إلى كثير من البلاد
    الإسلامية وكانوا يتكلمون بنحو هذا في الجامعة الإسلامية أنها إذا
    حدثت قضية تنظر إلى أقوال الفقهاء، ثم تأخذ الأسهل على الناس
    وكأننا مفوضون في دين الله.
    وأقوال الفقهاء ليست بحجة بل من كان أهلا أن ينظر في أدلتهم
    وأقوالهم ثم يرجح ما يقتضيه الدليل فعل، وإلا فرب العزة يقول في
    كتابه الكريم: “ف اَس أْ لَ وُا أ هَ لْ الذ كِّ رْ إ نِ ك نُت مُ لاَ
    [ ت عَ لْ مَ وُن ”َ [النحل: 43
    أما ألعوبة كثير من الأزهريين ما يناسب ومايتلأم مع الواقع ومع
    الناس فلا.
    وقد كان العلماء يقولون: تتبع الرخص زندقة.
    فلا بد من الأخذ بما يقتضيه الدليل، وإلا فليسأل أهل العلم عن
    الدليل.
    122- فضائح ونصائح ص 121

  • Khulafaur Rasyidin Hanya Empat

    Ustadz Qomar Su’aidi Hafizdahullahu

    Pertanyaan :
    Bismillah Ustadz, ada hal yang membuat saya bertanya-tanya. Tentang gelar Khulafaur Rasyidin. Alhamdulillah dalam pelajaran sejak Sekolah Dasar bahwa jumlah mereka ada 4 dan ini adalah keyakinan Ahlis Sunnah. Hanya saja, terusik kenapa terbatas 4. Bukankah pemimpin setelah Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu ‘anhu- juga sahabat? Mohon jawabannya, semoga Allah menghilangkan syubhat di hati saya.
    Jazakumullahu khairan

    Jawaban :
    Disebut Khulafa’ur Rasyidin dan dengan jumlah 4, karena mereka punya keistimewaan khusus yang lebih dari yang lain. Meskipun yang setelahnya juga shahabat, tapi tidak memiliki keistimewaan seperti yang mereka miliki. Asy Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- menjelaskan, bahwa mereka yang empat itulah yang disebut sebagai Al Khulafa Ar Rasyidin, yang mendapat hidayah, yang Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam katakan dalam hadits beliau yang artinya :
    ” Hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para
    Khulafa’ur Rasyidin setelahku, gigitlah dengan gigi geraham.”
    [H.R At Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani – rahimahullah- dalam Irwaul Ghalil]

    Nabi juga bersabda :
    ” kekhalifahan setelahku adalah 30 tahun”
    [H.R Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi, Asy Syaikh Al Albani –
    rahimahullah- mengatakan sanadnya hasan].

    Maka akhir dari kekhalifahan adalah Ali -radhiyallahu ‘anhu- demikian dikatakan oleh penulis (Ibnu Qudamah). Seolah-olah beliau – shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan kekhalifahan Al Hasan mengikuti ayahnya atau tidak beliau hitung dikarenakan beliau mengalah dan melepaskannya.

    • Kekhalifahan Abu Bakar -radhiyallahu ‘anhu- 2 tahun, 3 bulan, dan 9 hari sejak 13 Rabi’ul Awwal 11 Hijriyah hingga 22 Jumadil Akhir 13 Hijriyah
    • Kekhalifahan Umar -radhiyallahu ‘anhu- 10 tahun, 6 bulan, 3 hari, Sejak 23 Jumadil Akhir tahun 13 Hijriyah hingga 26 Dzulhijjah 23 Hijriyah
    • Kekhalifahan Utsman -radhiyallahu ‘anhu- 12 tahun kurang 12 hari, sejak 1 Muharam tahun 24 Hijriyah hingga 18 Dzulhijjah tahun 35 Hijriyah
    • Kekhalifahan Ali -radhiyallahu ‘anhu- 4 tahun 9 bulan, sejak bulan Dzulhijjah tahun 35 Hijriyah hingga 19 Ramadhan tahun 40 Hijriyah

    Sehingga masa Kekhalifahan mereka berempat adalah 29 tahun dan6 bulan empat hari. Lalu Hasan di baiat setelah ayah beliau wafat. Kemudian pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 41H beliau menyerahkan kepemimpinan kepada Mu’awiyah -rahimahullah- dan dengan itu nampaklah kebenaran berita Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau :
    ” الخلافة بعدي ثلاثون سنة ثم تكون ملكا ”
    “Kekhalifahan setelahku adalah 30 tahun, kemudian setelahnya adalah kerajaan”.
    [H.R Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi]

    Oleh karena itu maka Mu’awiyah -radhiyallahu ‘anhu- walaupun shahabat, namun tidak disebut Khulafa’ur Rasyidin atau bahkan tidak disebut sebagai khalifah. Lebih tepat beliau disebut raja.
    Ibnu Katsir -rahimahullah- menjelaskan bahwa yang sesuai sunnah adalah Mu’awiyah disebut Malik (Raja), tidak disebut khalifah, berdasarkab hadits dari shahabat Safinah – radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
    الخلا فة بعدي ثلاثون سنة ثم تكون ملكاعضوضا
    “Kekhalifahan setelahku 30 tahun kemudian setelahnya adalah
    kerajaan yang sangat menggigit.”

    Namun demikian, Mu’awiyah -radhiyallahu ‘anhu- adalah raja terbaik di muka bumi pada umat ini selamanya. Adz Dzahabi – rahimahullah- menyebutnya Amirul Mukminin Raja Islam (Siyar a’lam Nubala’) Wallahua’lam

    Sumber :
    Majalah Qudwah Edisi 3 Vol 01 2012

  • Setan Bertemu Setan

    Berkatalah Setan kepada Setan yang lain:
    “Ada apa dengan diriku, aku melihatmu kurus dan lemah…?

    Maka Setan itu berkata:
    “Aku bersama laki-laki, jika dia makan menyebut nama Allah (membaca basmalah) maka aku tidak bisa makan bersamanya.”
    “Jika minum menyebut nama Allah maka aku tidak bisa minum bersamanya.”
    “Dan jika masuk rumah menyebut nama Allah maka aku menginap di luar rumah”.

    Maka Setan yang lain berkata:
    “Akan tetapi aku bersama orang jika makan tidak membaca basmalah maka aku makan dengannya bersama-sama.”
    “Dan jika minum dia tidak menyebut nama Allah maka aku minum bersamanya.”
    “Jika dia masuk rumahnya tidak menyebut nama Allah maka aku masuk bersamanya”.
    “Dan jika dia berjima’ dengan istrinya tidak menyebut nama Allah maka aku ikut menjima’i istrinya.”

    والعياذ بالله…
    ————————————
    Penterjemah
    Al-Ustadz Khodir Almalanjy Hafidzahulloh

    [عدة الصابرين وذخيرة الشاكرين
    لابن القيم – رحمه الله – 28]

  • BOLEHKAH BAGI ORANG YANG SUDAH SHALAT TARAWIH DAN DITUTUP DENGAN WITIR UNTUK KEMUDIAN IA MELAKUKAN SHALAT TAHAJJUD?

    ✍🏻 Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah

    [Pertanyaan:]

    ◾Apa hukumnya shalat Tarawih dan shalat Tahajjud?

    ◾Kapankah waktu shalat Tahajjud ? Dan berapakah jumlah raka’atnya?

    ◾ Dan apakah boleh bagi siapa yang sudah shalat Witir setelah selesai dari Tarawihnya, untuk ia shalat Tahajjud, ataukah tidak boleh?

    ◾ Dan apakah shalat Tarawih diharuskan bersambung dengan shalat Isya, yaitu dilakukan setelahnya secara langsung, ataukah boleh seandainya ada suatu jama’ah yang bersepakat untuk mengakhirkannya setelah shalat Isya, lalu mereka berpisah dan berkumpul lagi di lain kesempatan untuk mengerjakan shalat Tarawih? Ataukah yang demikian itu tidak boleh?

    [Jawab:]

    ◻Adapun shalat Tarawih, maka hukumnya sunnah muakkadah, dan pelaksanaannya adalah setelah shalat Isya dan sunnah rawatibnya (ba’diyyah) secara LANGSUNG. Inilah yang menjadi amalan kaum muslimin semenjak dahulu.

    ◻ Adapun mengakhirkannya sebagaimana ditanyakan oleh penanya, sehingga mereka mendatangi masjid dan mengerjakan Tarawih tersebut; maka ini menyelisihi apa yang telah menjadi amalan (muslimin) terdahulu. Para ulama ahli fiqih menyebutkan bahwasanya Tarawih itu dikerjakan segera setelah shalat Isya dan sunnah rawatibnya. Namun seandainya mereka mengakhirkannya, maka tidak kami katakan bahwa ini haram, akan tetapi yang demikian itu menyelisihi apa yang telah menjadi amalan semenjak dulu.

    ◻ Adapun Tahajjud; maka hukumnya juga sunnah, dan padanya terdapat keutamaan yang besar. Dan Tahajjud adalah shalat malam (yang dikerjakan) setelah bangun tidur. Lebih-lebih pada sepertiga malam terakhir, atau setelah pertengahan malam. Padanya terdapat keutamaan besar dan pahala yang banyak. Bahkan termasuk seutama-utama shalat Tathawwu’ (tambahan) yaitu Tahajjud di malam hari.

    Allah Ta’ala berfirman:

    إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئاً وَأَقْوَمُ قِيلاً

    “Sesungguhnya bangun (shalat) malam itu lebih kuat pengaruhnya dan lebih tepat bacaannya.” (Al-Muzamil 6)

    dan termasuk bentuk meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

    ◻ Dan seandainya seseorang shalat Tarawih, dan ia ikut Witir bersama imamnya, kemudian ia bangun lagi waktu malam dan melakukan Tahajjud; maka tidak ada larangan dari hal tersebut, dan tidak perlu ia mengulangi Witirnya, telah cukup baginya Witir bersama imamnya (tadi), dan ia bertahajjud dari sebagian waktu malam sepanjang apa yang Allah mudahkan.

    Dan jika ia mengakhirkan Witirnya hingga akhir shalat malam, maka tidak mengapa, tetapi ia kehilangan (keutamaan) mengikuti imam. Maka yang lebih utama agar ia mengikuti imam untuk Witir bersamanya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: 

    من قام مع الإمام حتى ينصرف ؛ كتب له قيام ليلة 

    “Barangsiapa shalat bersama imam sampai selesai, niscaya dituliskan (pahala) baginya shalat semalam suntuk.” (H.R Abu Daud, Tirmidzi, Ab-Nasai, Ibnu Majah)

    Maka ia ikuti imamnya, ia ikut Witir bersamanya, dan yang demikian ini tidak menghalanginya untuk bangun lagi di akhir malam guna bertahajjud semampunya.”

    TANYA JAWAB SEPUTAR SHALAT TARAWIH DAN TAHAJJUD
    | Sumber: Al-Muntaqa min Fataawaa al-Fawzan (jilid 3, hal. 76, fatwa no.116).
    | Faidah dari Ustadz Muhammad Higa hafizhahullah_Sewon Bantul

    ••••
    🌏 Link:
    http://forumsalafy.net/tanya-jawab-seputar-shalat-tarawih-dan-tahajjud/

  • Makna “Sesungguhnya Puasa Itu Untukku dan Aku Sendiri yang Akan Membalasnya” ?

    MAKNA HADITS: “KECUALI PUASA, KARENA SESUNGGUHNYA (PUASA ITU) UNTUKKU DAN  AKU SENDIRI YANG AKAN MEMBALASNYA”

    Oleh: Asy-Syaikh Al ‘Allaamah Muqbil bin Hady Al-Wadi’ie -rahimahullah-

    P E R T A N Y A A N :

    Bersabda Rasulullah ﷺ tentang apa yang Beliau riwayatkan dari Rabb-nya:

    ” كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به “
    “Semua amalan anak cucu Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa karena sesungguhnya ia diperuntukkan bagi-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

    Dan sebagaimana telah diketahui bahwasannya seluruh ibadah itu adalah untuk Allah dan akan diberikan pahala atasnya namun bagaimanakah (maksudnya) Allah hanya mengkhususkan puasa untuk-Nya?

    J A W A B A N:

    الخاصية فيه أنه بين العبد وربه فيمكن للشخص أن يتظاهر بأنه صائم لكنه إذا ذهب إلى بيته أو إلى مكان خالٍ يأكل .

    Kekhususan didalamnya bahwasannya amalan puasa tersebut (hanya diketahui) antara seorang hamba dengan Rabbnya. MUNGKIN saja seorang berpura-pura menampakkan diri sebagai seorang yang berpuasa NAMUN apabila ia kembali ke rumahnya atau ke tempat yang sepi maka ia makan.

    Maka demikianlah (maknanya) dan di dalamnya terdapat keistimewaan dan keutamaan pada amalan puasa. Begitu pula amalan-amalan lainnya, masing-masing memiliki keutamaan dan keistimewaan.

    Dan Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana dalam hadits Abu Umamah sungguh beliau mengatakan:  ” Tunjukkan kepadaku suatu amalan shalih – wahai Rasulullah – niscaya akan aku amalkan? :

    ” عليك بالصوم ؛ فإنه لا مثل له “

    “Atasmu untuk senantiasa berpuasa karena sesungguhnya tidak ada (amalan shalih) yang semisalnya.”

    Dan bukanlah maknanya bahwa amalan puasa itu lebih utama daripada shalat. AKAN TETAPI maknanya bahwa : padanya terdapat keistimewaan ini dan berpuasa itu menunjukkan suatu bentuk keikhlasan(dalam mengamalkannya).

    Dari kaset : Pertanyaan-pertanyaan para pemuda dari desa As-Sa’iid.

    معنى حديث : إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به

    نص الســـؤال:
    يقول الرسول صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربه : ” كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به ” فمن المعروف أن العبادات كلها لله ويثاب عليها ولكن كيف خص الله الصوم له فقط ؟

    نص الإجـــابة:
    الخاصية فيه أنه بين العبد وربه فيمكن للشخص أن يتظاهر بأنه صائم لكنه إذا ذهب إلى بيته أو إلى مكان خالٍ يأكل .
    هذا وفيه مزية وفضيلة للصوم ، وكذا بقية الأعمال لكلٍ شرفه وميزته ،

    والرسول – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – يقول كما في حديث أبي أمامة وقد قال : دلني على عمل يا رسول الله أعمله ؟ : ” عليك بالصوم ؛ فإنه لا مثل له ” ، وليس معناه أن الصوم أفضل من الصلاة لكن معناه أن له هذه المزية ، وأنه يدل على الإخلاص .

    ـــــــــــــــــــــــــ
    من شريط : ( أسئلة شباب قرية السعيد )

                                    ✺✻✺

    Sumber:
    http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=4254 (durasi 01:22)
    ✏ Alih Bahasa:
    Syabab Forum Berbagi Faidah

    __________________
    مجموعــــــة توزيع الفــــــوائد
    WA Forum Berbagi Faidah [FBF] | www.alfawaaid.net

  • Siapakah Orang yang Benar-benar Berpuasa?

    SIAPAKAH ORANG YANG BENAR-BENAR BERPUASA?

    al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata:

    “Orang yang benar-benar berpuasa adalah orang yang:
    👉 Anggota badannya berpuasa dari berbagai dosa;
    👉 Lisannya berpuasa dari ucapan dusta, kotor dan kebohongan;
    👉 Perutnya berpuasa dari makanan dan minuman; dan
    👉 Kemaluannya berpuasa dari perbuatan keji

    Sehingga;
    Kalau berbicara, ia tidak berbicara dengan ucapan yang menodai puasanya,
    Kalau berbuat, ia tidak berbuat sesuatu yang merusak puasanya,

    Jadi, semua ucapannya adalah ucapan yg bermanfaat lagi baik. Demikian juga dengan perbuatannya, ia ibarat aroma wangi yang dicium oleh orang yang duduk dekat pembawa minyak wangi.

    Orang yg bermajelis dengan orang yg berpuasa selalu mengambil manfaat dari majelis tersebut. Dalam majelis tersebut, ia aman dari sikap dusta, jahat dan zalim.

    Inilah PUASA yang DISYARIATKAN,
    bukan sekadar menahan diri dari makanan dan minuman saja.

    Sekali lagi, puasa hakiki itu adalah puasa anggota badan dari berbagai dosa, puasa perut dari makananan maupun minuman.

    Sebagaimana makanan dan minuman itu membatalkan puasa, maka demikian juga dengan berbagai dosa, ia akan memutus pahala puasa, merusak buah puasa, dan menjadikan orang yang berpuasa seperti orang yang sama sekali tidak berpuasa.

    al-Wabil ash-Shayyib, 31-32

    •••••••••••••••••••••
    Majmu’ah Manhajul Anbiya
    Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
    Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

  • BERADA DI KELUARGA YANG TIDAK ISTIQAMAH? JANGAN BERSEDIH, KITA BUKAN ORANG YANG PERTAMA Bag. 2

    Senantiasa Sabar, Tawakal, Istiqamah, Bersyukur, dan Berdoa agar turun Hidayah kepada Mereka

    NABI IBRAHIM ‘ALAIHISSALAM DENGAN AYAHANDANYA

    وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقاً نَّبِيّاً ﴿٤١﴾ إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئاً ﴿٤٢﴾ يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطاً سَوِيّاً ﴿٤٣﴾ يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيّاً ﴿٤٤﴾ يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمَن فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيّاً ﴿٤٥﴾ قَالَ أَرَاغِبٌ أَنتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْراهِيمُ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيّاً ﴿٤٦﴾ قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيّاً ﴿٤٧﴾ وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَى أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاء رَبِّي شَقِيّاً ﴿٤٨﴾ فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلّاً جَعَلْنَا نَبِيّاً ﴿٤٩﴾ وَوَهَبْنَا لَهُم مِّن رَّحْمَتِنَا وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيّاً ﴿٥٠

    041.
    Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang Shiddiq (sangat membenarkan) lagi seorang Nabi.

    042.
    Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?

    043.
    Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.

    044.
    Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Rabb Yang Maha Pemurah.

    045.
    Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Rabb Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”.


    046.
    Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada Rabb-Rabbku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”.

    047.
    Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.

    048.
    Dan aku akan menjauhkan diri daripadamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku”.

    049.
    Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq, dan Ya`qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi.

    050.
    Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.

    Q.S. Maryam: 41 – 50.

    ❗Perhatikan ayat-ayat akhir dari kisah yang agung ini, buah yang dipetik Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kala bersabar dalam berdakwah kepada ayahandanya dan tetap istiqamah walau mengalami penentangan dari orangtuanya.

    🎙Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy –rahimahullah- berkata dalam tafsirnya:

    {وَوَهَبْنَا لَهُمْ} أي: لإبراهيم وابنيه {مِنْ رَحْمَتِنَا} وهذا يشمل جميع ما وهب الله لهم من الرحمة، من العلوم النافعة، والأعمال الصالحة، والذرية الكثيرة المنتشرة، الذين قد كثر فيهم الأنبياء والصالحون.

    ”Dan Kami anugerahkan kepada mereka” , yaitu : Ibrahim dan kedua putranya ”sebagian dari rahmat Kami” yang meliputi segala karunia Allah kepada mereka dari rahmat-Nya, dari:
    ▪ Ilmu-ilmu yang bermanfaat,
    ▪ Amalan-amalan shalih,
    ▪ Keturunan yang banyak dan menyebar, yang banyak diantara mereka menjadi nabi dan orang shalih.”

    📖 Taisiirul Kariimir Rahman, As-Sa’diy, hal. 571.

    Muhibbukum fillah

  • BERADA DI KELUARGA YANG TIDAK ISTIQAMAH? JANGAN BERSEDIH, KITA BUKAN ORANG YANG PERTAMA Bag. 1

    Senantiasa Sabar, Tawakal, Istiqamah, dan Berdoa agar turun
    Hidayah kepada Mereka

    NABI NUH ‘ALAIHISSALAM DENGAN PUTRANYA

    حَتَّى إِذَا جَاء أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِن كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلاَّ مَن سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيلٌ ﴿٤٠﴾ وَقَالَ ارْكَبُواْ فِيهَا بِسْمِ اللّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٤١﴾ وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلاَ تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ ﴿٤٢﴾ قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاء قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِلاَّ مَن رَّحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ ﴿٤٣﴾ وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءكِ وَيَا سَمَاء أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاء وَقُضِيَ الأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْداً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ﴿٤٤﴾ وَنَادَى نُوحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابُنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ ﴿٤٥﴾ قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ ﴿٤٦﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلاَّ تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٤٧﴾ قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلاَمٍ مِّنَّا وَبَركَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِّمَّن مَّعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٤٨﴾ تِلْكَ مِنْ أَنبَاء الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ مَا كُنتَ تَعْلَمُهَا أَنتَ وَلاَ قَوْمُكَ مِن قَبْلِ هَـذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ ﴿٤٩﴾

    040.
    Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.” Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.

    041.
    Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    042.
    Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.”

    043.
    Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

    044.
    Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” Dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.”

    045.
    Dan Nuh berseru kepada Rabbnya sambil berkata: “Ya Rabbku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.”

    046.
    Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”

    047.
    Nuh berkata: “Ya Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat) nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.”

    048.
    Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mu’min) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.”

    049.
    Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.
    Q.S. Huud: 40 – 49.

    ❗PERHATIKAN bimbingan ilahi di akhir kisah: “Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

    🎙Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy –rahimahullah- berkata dalam tafsirnya:

    فاحمد الله، واشكره، واصبر على ما أنت عليه، من الدين القويم، والصراط المستقيم، والدعوة إلى الله {إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ} الذين يتقون الشرك وسائر المعاصي، فستكون لك العاقبة على قومك، كما كانت لنوح على قومه.

    ☝🏻Maka pujilah Allah dan bersyukur kepada-Nya -serta bersabarlah atas apa yang ada padamu- dari agama yang lurus, jalan yang mustaqim, dan berdakwah kepada Allah ”sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa” yang mereka membentengi diri dari kesyirikan dan seluruh kemaksiatan.

    👉🏻Maka kesudahan yang baik kelak akan ada padamu di atas kaummu, sebagaimana telah terjadi pada Nabi Nuh atas kaumnya.”

    📖 Taisiirul Kariimir Rahman, As-Sa’diy, hal. 430


Close
Close