Dakwah & Tarbiyah

Syaikh Ali Hasan dalam bukunya berkata bahwa : “Tidak akan sempurna tazkiyah (pembersihan) kecuali dengan tarbiyah dan tidak akan sempurna ilmu kecuali dengan tashfiyah.”

  • yang Mengamalkan ini, Dijamin Akan Tentram Hidupnya….

    Syaikh Rabi’ bin Hadi al Madkhali hafidzahullah :

    Wahai anak anakku…..
    Demi Allah, sungguh aku ini benar-benar pemberi nasihat yang terpercaya.
    Demi Allah aku sangat mencintai kalian. Aku tidak akan pernah ridha seorang pun berada di atas kemurkaan Allah, walau hanya beberapa saat saja.

    Aku tidak akan pernah ridha salah seorang dari kalian -wahai saudara saudaraku- terjerumus dalam kesalahan.

    Nabi shallahu-alaihi wa-sallam bersabda,
    ” Tidak beriman salah seorang di antara kalian, sampai dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya”


    📌 قال الشيخ ربيع بن هادي المدخلي رعاه الله :

    🔰 يا أبنائي، والله إني لكم ناصح أمين، وإني محب لكم، ولا أرضى أن يمشي أحد في سخط الله لحظة واحدة، ولا أرضى لأحد منكم يا إخوتاه أن يغالط نفسه،
    {لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه }

    📚 مرحبا يا طالب العلم ص ٢٦

    👉🏻 Engkau senang berada di atas sunnah kan ?
    👉🏻 Engkau senang bisa taklim rutin kan ? Sehingga bertambah ilmumu ?
    👉🏻 Engkau senang kan beribadah kepada Allah dengan tentram ?
    👉🏻 Engkau senang kan shalat 5 waktu secara berjamaah di masjid ?
    👉🏻 Engkau senang kan urusan dunianya mudah, urusakan rezekimu lancar?
    👉🏻 Engkau senang kan punya usaha terus berjalan dengan baik ?

    🤝🏻 Tentu jawabannya, “pasti senang”. Maka engkau juga harus senang saudara saudaramu semuslim, semukmin, mendapatkan sesuatu yang kamu senang mendapatkannya. Itulah tanda kesempurnaan iman seorang mukmin.

    🛡️ Namun ketika engkau tidak senang dan tidak suka saudaramu mendapatkan apa yang kamu suka mendapatkannya, itu pertanda tidak sempurnanya iman seseorang dan kamu tidak akan tentram dan nyaman hidupmu.

    • Engkau pasti tidak senang kan terjatuh di atas sebuah kesalahan, namun tidak ada yang mengingatkan dan menegur ?
    • Engkau pasti tidak senang kan terjatuh dalam kesyirikan ?
    • Engkau pasti tidak senang kan terjatuh dalam kebid’ahan ?
    • Engkau pasti tidak senang kan terjerumus dalam kemaksiatan dan dosa ?
    • Engkau pasti tidak senang kan duniamu susah, rezekimu payah ?
    • Engkau pasti tidak senangkan usahamu tidak berjalan dengan baik?

    📍 Jawabanya, ” Tentu tidak senang dan tidak suka”, maka engkau juga harus tidak senang jika perkara perkara di atas terjadi pada saudaramu atau menimpa mereka, dalam artian engkau peduli dengan saudaramu dan tidak terhadal keadaan mereka.

    🗒️ Kesimpulannya adalah kita harus peduli dengan saudara kita sesama muslim dan sesama mukmin, dalam bentuk ; memberikan nasihat dan peringatan kepadanya untuk kemaslahatan agama dan akhiratnya dan juga untuk kemaslahatan keberlangsungan hidupnya di dunia ini.

    💎 Demikian itulah seorang mukmin yang sempurna imannya. Mudah mudahan kita semua termasuk dalam golongan orang orang yang sempurna imannya. Aamiin ya Rab bal Alamin

    📍Alih bahasa : Sholih bin Abdirrohman al Maidani -ghafarollah lahuma-

    🖥️ www.alghurobaasahan.net
    💻 Majmu’ah telegram
    https://t.me/alghurobaaeksongsongan

  • Kisah Ummu Syarik, Yang Diberi Minum dari Langit

    “Syaikh kami seorang wali, beliau bisa terbang di atas air, kebal terhadap api, dan banyak lagi karamah-karamahnya yang lain. Makanya… jangan coba-coba melanggar perintahnya, bisa kualat nanti…”

    Demikian pembicaraan yang kadang terdengar dari sebagian orang yang tidak memahami makna karamah dan siapakah sebenarnya wali Allah itu.

    Di pandangan sebagian kaum muslimin memang gelar wali sering dikaitkan dengan keanehan-keanehan yang dimiliki pelakunya, yang terkadang keanehan tersebut bisa dikeluarkan kapan saja dibutuhkan dan dipertontonkan sesuai keinginan.

    Hanya karena si pelaku keanehan tadi adalah orang yang masih melakukan salat, atau terlihat memiliki kemampuan agama atau berpakaian syar’i, maka dengan mudahnya gelar wali disandangkan kepadanya sekalipun banyak kemungkaran, kebid’ahan, bahkan kesyirikan masih dilakukannya.

    Maka adalah termasuk perkara yang penting bagi kaum muslimin untuk mengerti apa makna karamah, dan siapakah wali Allah yang terkadang Allah beri karamah dari keutamaan-Nya.

    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

    أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّـهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

    “Ingatlah bahwa sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” [Q.S. Yunus: 62-63]

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

    مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
    “Barangsiapa memusuhi wali-Ku maka sungguh dia telah membuka peperangan dengan-Ku, dan tidaklah seorang hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan kepada dirinya. Senantiasa hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya. Maka jika Aku telah mencintainya, jadilah Aku pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan matanya yang dia melihat dengannya, dan tangannya yang dia bergerak dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya, dan jika dia meminta kepada-Ku sungguh Aku akan memberikannya, dan jika dia memohon perlindungan kepada-Ku, sungguh Aku akan melindunginya.” [H.R. Al Bukhari].

    Maka dengan dasar firman Allah serta hadis di atas dan juga banyak dari dalil-dalil yang lain, para ulama menjelaskan bahwa wali Allah adalah seseorang yang beriman dan bertakwa kepada Allah dengan keimanan dan ketakwaan yang bagus.

    Yang dengan sebab keimanan dan ketakwaannya itulah terkadang Allah berikan beberapa keutamaan dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Keutamaan-keutamaan yang tampak itulah yang disebut dengan karamah.

    Karamah adalah semata karunia Allah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, tidak bisa dipamerkan begitu saja kapanpun dikehendaki.

    Adapun orang-orang yang keadaannya sebaliknya, ia seorang muslim yang buruk keimanannya, pelaku kebid’ahan bahkan kesyirikan, mengaku memiliki karamah, mengaku dapat memperlihatkannya kapanpun dia ingin, maka kejadian-kejadian luar biasa yang dilakukan oleh dirinya adalah bagian dari apa yang dilakukannya bersama dengan setan, karena karamah Allah hanyalah Allah berikan kepada orang yang bertakwa.

    Dengan perantara karamah yang Allah berikan kepada seseorang, terkadang Allah bukakan pintu hidayah bagi orang lain. Karamah yang Allah berikan seakan menjadi sebuah bukti atau sebagai hujjah baginya di hadapan musuh-musuhnya.

    Atau terkadang ada beberapa karamah yang Allah jadikan sebagai ujian baik bagi orang tersebut ataupun bagi yang menyaksikannya, apakah akan menambah keimanan mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala, ataukah justru menyebabkan kesombongan yang menyebabkan kebinasaan.

    Maka dalam kisah niswah kali ini, kita akan mendapati karamah yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada salah seorang shahabiyah ini, Allah jadikan sebagai sebab hidayah bagi kaumnya. Dialah Ummu Syarik radhiyallahu ‘anha.

    Nama beliau adalah Ghaziyah binti Jabir bin Hakim Al Quraisy radhiyallahu ‘anha. Beliau adalah wanita Quraisy dari Bani Amir bin Luay, Istri dari Abul Akri Ad Dausy.

    Mereka termasuk orang-orang Mekkah yang menyambut dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum beliau hijrah ke Madinah. Islam telah masuk ke dalam hati mereka, mengokohkan keimanannya dan membuat semangat untuk berpegang kepada kebenaran membara di dada mereka.

    Maka didapati Ummu Syarik berusaha menyebarkan agama dan keyakinannya di tengah kaumnya. Ia mencoba mendatangi wanita-wanita Quraisy untuk mengajak mereka berislam. Tentunya semua bukan tanpa halangan. Gangguan, ujian, dan tekanan adalah suatu kemestian yang mesti dihadapi seseorang dalam berdakwah kepada Allah.

    Ketika seruan hijrah ditegakkan, maka berangkatlah Abul Akri Ad Dausy ke Madinah, dalam keadaan ia terhalang untuk membawa serta istrinya, Ummu Syarik. Tertinggallah Ummu Syarik di Mekkah.

    Ummu Syarik menceritakan keadaan dirinya ketika itu, “Keluarga Abul Akri Ad Dausy (yaitu keluarga suaminya) mendatangiku, lalu mereka berkata, “Jangan-jangan engkau telah berada di atas agamanya (Muhammad)”. Aku berkata, “Sungguh aku telah berada di atas agamanya”.

    Mereka berkata “Sungguh kami akan menyiksamu dengan siksa yang pedih”. Kemudian mereka membawaku keluar dari kampung kami menuju ke sebuah tempat bernama Dzilkhulashah. Mereka berjalan dan ingin membuat tempat singgah di tempat tersebut. Mereka membawaku di atas onta yang berjalan lambat, seburuk-buruk, dan sejelek-jelek tunggangan mereka.

    Mereka memberi aku makan berupa roti dan madu dan tidak memberiku setetes airpun. Ketika telah sampai kepada pertengahan siang, dan mataharipun mulai memanas, mereka turun dari unta dan membuat tenda.

    Mereka meninggalkanku di teriknya matahari hingga hilang akalku, pendengaran, dan penglihatanku. Mereka memperlakukan aku demikian selama tiga hari. Pada hari ketiga mereka berkata kepadaku, “Tinggalkanlah apa yang engkau ada di atasnya.”

    Aku tidak mengetahui apa yang mereka katakan kecuali kata perkata. Tidak jelas dikarenakan kehilangan sebagian kesadaran diri. Aku hanya mengisyaratkan ke langit dengan jari telunjukku sebagai isyarat kepada tauhid.

    Dan demi Allah sungguh aku benar-benar berkeyakinan demikian, dan sungguh ketika aku benar-benar merasa kehausan, tiba-tiba aku mendapati sebuah timba ada di atas dadaku. Maka aku mengambilnya dan aku minum darinya satu tegukan, kemudian timba itu terangkat dariku. Aku mengarahkan pandangan, maka ternyata timba tersebut tergantung antara langit dan bumi dan aku tidak mampu meraihnya.

    Kemudian timba itu diturunkan kepadaku untuk kali kedua, aku minum darinya satu tegukan. Kemudian timba itu terangkat dariku, dan aku mengarahkan pandangan, maka ternyata timba tersebut tergantung antara langit dan bumi. Kemudian timba itu diturunkan kepadaku untuk kali ketiga, kemudian aku minum darinya hingga aku puas dan aku tuangkan air ke atas kepalaku, wajahku, dan bajuku.

    Ketika mereka keluar, mereka melihatku dan mereka berkata, “Dari mana semua ini wahai musuh Allah?” Maka aku katakan kepada mereka, “Sesungguhnya musuh Allah bukanlah aku, musuh Allah adalah orang yang menyelisihi agama-Nya.”

    Dan adapun ucapan kalian, “Dari mana semua ini,” maka ini adalah dari sisi Allah sebagai rezeki yang Allah berikan kepadaku.”

    Bergegas mereka menuju sumur dan timba mereka. Mereka mendapatinya di tempatnya dan belum terlepas. Mereka pun seketika berkata, “Kami bersaksi bahwa sesungguhnya Rabbmu adalah Rabb kami dan sesungguhnya Dzat yang telah memberikan rezeki kepadamu adalah Dzat yang telah memberi rezeki untukmu di tempat ini setelah kami berbuat kepadamu apa yang telah kami perbuat. Dialah yang telah membuat syariat Islam.”

    Maka kemudian mereka masuk Islam dan berhijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka juga mengakui keutamaanku atas mereka dan apa yang telah Allah perbuat atas diriku.

    MasyaaAllah… Allah Maha Kuasa untuk memberikan pertolongan dan bantuan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Pertolongan yang Allah berikan kepada Ummu Syarik tidaklah Allah berikan tanpa sebab.

    Bahkan sebab adanya pertolongan Allah tersebut adalah keimanan dan ketakwaan yang ada di dada Ummu Syarik, yang keimanan tersebut mendatangkan keridhaan Allah dan menjadikan terjadinya kejadian luar biasa berupa diturunkan baginya sebuah timba penuh air dari atas langit untuk menghilangkan dahaganya.

    Tidaklah karamah yang diberikan Allah tersebut membuat Ummu Syarik merasa sombong serta membanggakan diri di hadapan kaumnya. Akan tetapi semua beliau nisbahkan kepada Allah, dari kemulian Allah subhanahu wa ta’ala semata.

    Maka Allah kemudian takdirkan hidayah masuk ke dalam hati kaumnya hingga akhirnya mereka dapat menerima Islam dan berhijrah menyusul Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah.

    SubhanAllah, demikianlah salah satu bentuk karamah yang Allah berikan kepada orang-orang yang beriman. Bukan suatu perkara yang dapat direkayasa, tidak pula dapat dipamerkan dan diperlihatkan sekehendak hati. Akan tetapi benar-benar datangnya dari kuasa Allah dan keridaan-Nya.

    Sehingga jelaslah bagi kita bahwa tidaklah mungkin Allah memberikan keutamaan kepada orang-orang yang menyelisihi syariat-Nya. Jikalau ada kejadian-kejadian luar biasa yang dilakukan oleh orang-orang yang banyak menyelisihi syariat-Nya, tidak lain yang demikian merupakan salah satu dari tipu daya setan yang bekerjasama dengan manusia untuk memberikan fitnah bagi orang-orang yang melihatnya agar tertipu dan mau mengikuti seruan-seruan mereka.

    Kita memohon perlindungan kepada Allah dari segala macam tipu daya syaithan di manapun kita berada… Amin.

    Sumber: Majalah Qudwah edisi 53 vol.05 1439 H rubrik Niswah.
    Pemateri: Ustadzah Ummu Abdillah Shafa

  • Kisah Fathimah bintu Al Khaththab

    Figur Keberanian Sang Kesatria

    Berani berkata benar, berani mempertahankannya, dan berani menghadapi segala risiko yang menghadang, adalah sifat kesatria. Para pejuang yang gagah adalah pemberani dalam memeluk kebenaran.

    Lantang mengikrarkannya, tidak gentar terhadap musuh sekuat apapun. Mereka pun tidak akan goyah dengan tawaran dunia, ataupun rayuan cinta semu. Apalagi sekadar celaan atau gunjingan yang tidak langsung didengar.

    Berani adalah sifat mulia lagi terpuji. Tentu maksudnya adalah berani yang terukur dengan barometer syariat. Berani yang terikat dengan kebenaran, bukan yang lainnya.

    Bukanlah berani, mereka yang lancang melanggar hukum Allah. Tidaklah disebut berani, mereka yang nekad menerjang batasan Allah. Karena hakikat keberanian mereka itu akan memgakibatkan kehancuran dan penyesalan yang tiada berakhir.

    Kalaupun hal itu disebut berani, maka berani yang tidak terpuji.

    Berapa banyak manusia pemberani, namun pada perkara yang menyebabkan murka Allah. Salah kaprah dalam memaknai arti berani, latah dalam upaya membuktikan jati diri.

    Hanya untuk dikatakan berani oleh komunitasnya yang terbatas, akhirnya rela mengambil risiko kematian yang naas. Ngebut di jalan, menenggak narkoba, dan semacamnya. Ya, berani tanpa bimbingan syar’i hanya akan menjerumuskan pada kebinasaan diri.

    Beranipun tidak identik dengan selalu garang. Berani pada tempatnya, santun dalam waktunya adalah sebuah hikmah bijak nan indah.

    Kenyataannya, tidak jarang orang yang sok berani atau tepatnya memaksakan diri untuk berani, kemudian kehilangan sifat lembutnya sama sekali.

    Mereka menerjemahkan berani sebagai sikap kaku tanpa kompromi. Sehingga keadaan seperti ini membentuk tabiat dan watak yang keras. Akhirnya, keluarga yang berhak mendapatkan kelembutan justru merasakan sikap arogan.

    Orang-orang lemah yang seharusnya mendapatkan pengayoman, justru seolah merasakan penindasan. Sekali lagi, berani harus terbingkai dalam tuntunan ilmu syar’i.

    Keteladanan salaf dalam hal keberanian sangat melimpah. Bahkan seluruh kehidupan mereka penuh dengan nilai-nilai keberanian. Bisa jadi fisik mungkin lemah, namun jiwa mereka kuat. Kemampuan bisa jadi terbatas, namun mereka selalu bersandar kepada Dzat yang maha mampu atas segalanya.

    Itulah ilmu yang membuahkan iman. Keyakinan kokoh yang membuat tegap dan teguh dalam menghadang berbagai rintangan yang ingin menggeser keimanan. Inilah berani yang sesungguhnya.

    Karena iman inilah, keberanian bukan hanya pada sebagian mereka. Bahkan hampir merata pada semua kalangan. Muda tua, laki-laki maupun wanita.

    Dalam lipatan kitab para ulama, termaktub biografi sosok wanita pemberani. Namanya begitu harum, terabadikan dalam berbagai karya fenomenal para ulama. Dalam kitab-kitab yang tersusun rapi, terjaga, dan tersimpan di perpustakaan kaum muslimin.

    Beliau adalah Fathimah bintu Al Khaththab radhiyallahu ‘anha, saudari manusia kedua dalam Islam ini setelah nabinya, Amirul Mukminin Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

    Fathimah bintu Al Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza Al Quraisyiah Al Adawiyah adalah nama lengkap beliau. Sebagian mengatakan bahwa nama beliau adalah Umayyah. Ada yang mengatakan bernama Ramlah. Namun, yang paling masyhur adalah Fathimah.

    Adapun kuniyah beliau adalah Ummu Jamil. Beliau dipersunting oleh seorang shahabat yang mulia, yaitu Said bin Zaid Al Qurasyi radhiyallahu ‘anhu. Dari pernikahan ini, terlahirlah seorang putra bernama Abdurrahman.

    Sungguh rumah tangga penuh berkah. Betapa tidak, sang nakhoda adalah seorang shahabat agung yang termasuk sepuluh pemetik janji surga dari lisan mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam semenjak masih hidup.

    Seiya sekata dalam iman, merajut bahagia dalam kedamaian. Terbukti, beliau dan suami tercinta termasuk yang awal masuk Islam. Saat Islam dan pemeluknya mendapat berbagai tekanan dan siksaan dari kaum musyrikin.

    Namun, lihatlah keberanian yang berbalut iman! Semuanya terasa manis dan indah dalam keyakinan janji ilahi. Ya, inilah keimanan. Saudara! Cerminkanlah pada diri kita! Seberapa kesabaran kita saat didera ujian?! Kurang lebih seperti itulah kadar keimanan kita.

    Pergi meninggalkan tanah kelahiran, menuju tempat asing jauh dari sanak keluarga, pekerjaan pun belum pasti, apalagi penghidupan yang layak. Itulah gambaran hijrah waktu itu.

    Beranikah Anda menerima tantangan ini? Bagi kita mungkin akan berfikir seribu kali untuk melakukannya. Bagaimana anak istri? Mau makan apa, nanti tinggal di mana? Dan berbagai pertimbangan dunia.

    Pertimbangan yang sejatinya menunjukkan kelemahan iman terhadap janji Allah dan Rasul-Nya. Namun lihat para shahabat! Mereka adalah orang yang bersegera mengamalkannya.

    Termasuk yang awal berhijrah adalah Fathimah dan suaminya. Padahal mereka juga punya sanak keluarga, mereka juga butuh makan dan tempat tinggal.

    Ya, keimananlah yang membuat mereka berani mempertaruhkan berbagai kemungkinan. Keimanan membuat mereka berani melawan berbagai risiko yang menghadang.

    Anda pasti kenal Umar. Siapakah yang tidak mengenal sosok pemberani ini?! Dalam cuplikan kisah menakjubkan berikut, kita akan melihat bahwa Fathimah pun mampu melawan keberanian Umar. Karena keberanian Fathimah adalah keberanian dalam iman.

    Kisah itu dituturkan sendiri oleh Umar. Beliau mengatakan, “Tiga hari setelah masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib, aku keluar rumah. Di jalan aku bertemu dengan seorang dari kabilah Makhzumi yang telah masuk Islam.” Orang itu satu kabilah dengan Umar.

    Umar melanjutkan, “Aku pun menegur orang tersebut. ‘Engkau telah keluar dari agama nenek moyang, dan mengikuti agama Muhammad?!’ Ia menjawab, ‘Apa yang telah aku lakukan ini, dilakukan pula oleh orang yang lebih besar haknya atasmu dari padaku.’ ‘Siapa dia?’ ‘Saudarimu dan suaminya.’

    Demi mendengar hal itu, aku segera menuju rumah Fathimah. Sesampai di sana, ternyata pintu rumah dalam keadaan terkunci. Dari luar, aku mendengar sesuatu. Setelah pintu dibuka, aku masuk dan langsung bertanya, ‘Apa yang aku dengar tadi?’ Fathimah menjawab, ‘Engkau tidak mendengar sesuatupun.’

    Aku memaksa bertanya lagi, namun Fathimah masih menutupi. Maka suara semakin meninggi. Maka aku pegang kepala Fathimah, kemudian aku pukul hingga berdarah.”

    Dalam sebagian referensi disebutkan bahwa Umar memegang dan memukul kepala iparnya, yaitu Said bin Zaid. Kemudian Fathimah bangkit dari belakang dan memegang Umar.

    Fathimah mengatakan, “Awas! Hal ini akan menjadi sebab kehinaanmu!” Umar kembali berkisah, “Aku pun merasa malu melihat darah itu.” Umar menyesal telah melukai saudara sendiri.

    Umar meminta lembaran yang sebelumnya dibaca Fathimah dan suaminya. Tertulis di sana surat Al Haqqah ayat 30 sampai 52. Maka itulah saat keimanan muncul dalam hati Umar.

    Subhanallah, keberanian Fathimah adalah di antara sebab masuk Islamnya Umar. Dengan gagah, Fathimah tetap kokoh mempertahankan imannya. Bahkan dengan keberaniannya Fathimah mengingatkan Umar.

    Suaranya keras dan lantang, tangannya pun tidak tinggal diam. Tidak peduli dengan Umar yang sejak lama terkenal dengan sikap kerasnya. Memang dengan iman, yang lemah akan menjadi kuat. Yang sedih akan berbahagia. Yang tertindas pun menjadi mulia.

    Diriwayatkan bahwa Fathimah bintu Al Khaththab radhiyallahu ‘anha pernah menyampaikan sebuah hadis yang beliau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,
    “Senantiasa umatku akan berada dalam kebaikan selama tidak tampak pada mereka cinta dunia, pada ulama yang fasik, para pembaca Al Quran yang hakikatnya jahil, serta para penguasa yang lalim. Apabila hal ini muncul, aku khawatir Allah akan meratakan azab-Nya.”
    Keberanian Fathimah bintu Al Khaththab radhiyallahu ‘anha adalah keteladanan dalam membela dan mewujudkan kebenaran. Tidak surut mundur walau berbagai halang rintang menghadang.

    Terbukti bahwa sifat lemah pada wanita bukanlah bermakna rela terhina. Keberadaan wanita di dalam rumah bukanlah maksudnya terkungkung dalam kebatilan. Namun, mereka harus memiliki jiwa pemberani dalam meraih kebenaran.

    Ya, berani yang terbimbing dengan ilmu dan iman. Allahu A’lam.

    Sumber: Majalah Qudwah edisi 52 vol.05 1439 H rubrik Niswah.

    Pemateri: Ustadz Abu Muhammad Farhan

  • Kisah Atikah binti Zaid, Istri Para Syuhada

    Kisah Atikah binti Zaid

    Nama beliau adalah Atikah binti Zaid bin Amr bin Nufail bin Abdil Uzza bin Rayyah bin Abdillah Al Qurasyiyah Al Adawiyyah radhiyallahu ‘anha. Beliau adalah saudari seayah dari Said bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, salah seorang dari sepuluh orang yang dijanjikan surga.

    Beliau adalah anak perempuan dari paman Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu, sedang ibu beliau adalah Ummu Kuraiz binti Abdillah bin Ammar bin Malik Al Hadramiyah. Atikah termasuk wanita yang dikaruniai paras yang rupawan dan budi pekerti yang baik.

    Demikian pula beliau termasuk wanita yang memiliki kepandaian dalam syair. Beliau termasuk wanita Quraisy yang ikut berhijrah ke negeri Madinah.

    Atikah binti Zaid radhiyallahu ‘anha menikah beberapa kali dengan para shahabat yang utama. Cukuplah kita melihat kemuliaan shahabat wanita ini dengan para pendamping hidupnya. Di antara shahabat mulia yang menikah dengan beliau adalah Abdullah bin Abu Bakar.

    Pada pernikahan beliau ini sempat terjadi perceraian antara keduanya. Ini disebabkan permintaan sang ayah, Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, yang melihat bahwa putranya –Abdullah- terlalu tersibukkan dengan cintanya kepada Atikah dari hak-hak Allah.

    Dengan sebab cintanya kepada sang istri, sang anak terlalaikan dari hak Allah, demikian anggapan ayah beliau. Demi mengikuti nasihat sang ayah, Abdullah bin Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma pun menceraikan istrinya. Namun, perpisahan tersebut menyebabkan kesedihan yang mendalam bagi sang suami, demikian pula dengan Atikah.

    Dengan sebab perpisahan ini Abdullah membuat bait-bait syair kesedihan yang terdengar sampai kepada Abu Bakar Ash Shiddiiq dan menyebabkan beliau merasa iba. Abu Bakar pun mengijinkan putranya untuk merujuk kembali sang istri.

    Namun, pernikahan ini pun hanya berjalan beberapa waktu lamanya dan berakhir dengan gugurnya Abdullah bin Abi Bakar terkena anak panah saat berperang di Thaif bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Setelah kepergian sang suami dan selesai dari masa iddah, Atikah pun dipersunting oleh Zaid bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Namun, suami beliau ini pun gugur dalam peristiwa perang Yamamah.

    Pada tahun 12 hijriah, Atikah radhiyallahu ‘anha menikah dengan Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Umar bin Al Khaththab sendiri adalah kakak ipar dari Said bin Zaid yang menikahi Fathimah binti Al Khaththab.

    Oleh karenanya, telah ada hubungan kedekatan antara keluarga Atikah dan keluarga Umar bin Khaththab sebelumnya. Dalam pernikahan ini, Atikah mempersyaratkan kepada Umar bin Al Khaththab agar dirinya tidak dilarang untuk turut hadir dalam salat berjamaah bersama kaum muslimin di Masjid Nabi dan tidak memukulnya.

    Maka, Umar bin Al Khaththab pun menyetujui syarat tersebut dengan berat hati. Dalam pernikahan ini, lahir seorang anak laki-laki bernama Iyadh bin Umar bin Al Khaththab.

    Selama sekitar 10 tahun lamanya beliau setia mendampingi khalifah Umar bin Al Khaththab. Hingga beliau meninggal terbunuh syahid oleh seorang majusi di tahun ke-22 hijriah.

    Lalu beliau pun dipinang oleh Az Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu, sang hawari (pengikut setia) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan termasuk sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga.

    Beliau pun menerima pinangan tersebut dengan meminta syarat yang sama dengan yang beliau ajukan kepada suami sebelumnya, yaitu meminta syarat untuk tidak dilarang menghadiri salat jamaah di masjid Nabi. Maka, Az Zubair pun memenuhi syarat tersebut.

    Namun saat datang waktu salat Isya’, dan sang istri bersiap menghadirinya, Az Zubair pun merasa berat dengan hal ini, akan tetapi beliau tidak kuasa melarangnya disebabkan syarat yang telah diajukan tersebut. Demikianlah kecemburuan para suami atas istri mereka ketika mereka keluar rumah. Walaupun tujuan keluarnya adalah demi beribadah kepada-Nya di masjid-Nya.

    Maka tatkala sang istri beranjak pergi, Az-Zubair mendahului beliau dan menunggu sang istri melewatinya di tempat yang tidak terlihat. Maka tatkala sang istri lewat, Az Zubair mencolek sang istri. Maka seketika itu sang istri beristirja’ dan berlari pulang.

    Sang istri tidak mengetahui bahwa yang mencoleknya adalah suaminya sendiri. Sejak itu Atikah tidak lagi keluar mengikuti salat berjamaah karena merasa takut akan diganggu manusia.

    Demikianlah seharusnya sikap yang ditunjukkan kaum mukminah, berusaha menjaga dirinya dari gangguan manusia. Terlebih di zaman ini, zaman yang penuh kemungkaran dan telah mulai menipis ketakwaan manusia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Pernikahan berakhir dengan syahidnya Az Zubair dalam Perang Jamal.

    Setelah kematian Az Zubair, sang khalifah di saat itu adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Ali pun berkeinginan untuk meminang Atikah binti Zaid. Namun, Atikah binti Zaid menolak pinangan Ali bin Abi Thalib disebabkan saat itu Ali menjadi pemimpin kaum muslimin.

    Sedangkan beliau melihat bahwa para suaminya meninggal semua dalam keadaan syahid. Beliau pun takut hal ini juga terjadi atas sang khalifah sebagaimana telah menimpa kepada suami beliau sebelumnya. Maka Ali bin Abi Thalib mengurungkan pinangan tersebut.

    Lalu beliau dilamar oleh Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dan ini adalah suami beliau yang terakhir. Walau dalam pernikahan ini Atikah radhiyallahu ‘anha telah memasuki masa senja, namun, beliau tetaplah menjadi wanita yang disayangi dan dihormati oleh sang suami, Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

    Sebenarnya, sebelum pernikahan terjadi, Atikah telah mempersyaratkan agar calon suaminya tersebut tidak boleh melakukan jihad. Hal ini disebabkan kecemasan beliau terhadap kematian yang mungkin juga akan menimpa sang suami sebagaimana syahidnya suami-suami beliau sebelumnya.

    Akan tetapi, takdir Allah tidaklah dapat diganti dan diubah. Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkan Al Hasan meninggal pula sebagai syahid meninggalkan beliau seorang diri.

    Setelah kematian Al Hasan beliau pun hendak dilamar oleh Muawiyah radhiyallahu ‘anhu, namun beliau menolaknya dan mengatakan, “Cukuplah bagiku menjadi wanita menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Atikah radhiyallahu ‘anha meninggal di masa kekuasaan Muawiyah radhiyallahu ‘anhu. 

    [Ustadz Hammam]

    Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 73 vol. 07 1439H-2017M rubrik Figur. | Judul Asli : Istri Para Syuhada

    Demikianlah Kisah Atikah binti Zaid, semoga kita bisa mengambil pelajaran nan berharga dari beliau.

  • Mengingat Kematian dan Kegelapan Kubur

    Muslim bin Ibrahim berkata:

    كَانَ هِشَامٌ الدَّسْتُوَائِيُّ لَا يُطْفِئُ السِّرَاجَ إِلَى الصُّبْحِ وَقَالَ: إِذَا رَأَيْتُ الظُّلْمَةَ ذَكَرْتُ ظُلْمَةَ الْقَبْرِ

    “Adalah Hisyam Ad-Dustuwai tidak memadamkan lampunya (di malam hari) hingga waktu shubuh. Ia berkata, ‘apabila melihat kegelapan aku teringat kegelapan kubur.”

    Amr bin Haitsam berkata:

    مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ ذِكْرًا لِلْمَوْتِ مِنْ هِشَامٍ الدَّسْتُوَائِيِّ

    “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih sering mengingat kematian dari Hisyam Ad-Dustuwai”

    Hisyam Ad-Dustuwai adalah Abu Bakar Hisyam bin Sanbar Al-Bashri. Beliau seorang yang hafizh, hujjah, dan imam. Beliau meninggal tahun 154 H pada usia 78 tahun.

    Banyak mengingat kematian merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dengannya seorang hamba akan menyadari bahwa hidupnya di dunia ini hanya sementara. Sedangkan kematian akan mendatanginya secara tiba-tiba.

    Ia menyadari, bila ajal telah datang maka dia akan diletakkan di liang kecil yang sempit lagi gelap. Tidak ada yang menemaninya selain amalannya.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
    “Perbanyaklah mengingat pelumat segala kelezatan” yaitu kematian.”
    (HR. Tirmidzi no.2307)
    Dalam hadits yang lain beliau bersabda:
    “Dahulu aku melarang kalian menziarahi kuburan. Sungguh Muhammad telah diizinkan menziarahi kubur ibunya, maka berziarahlah kalian kepada kuburan, karena ia akan mengingatkan kepada akhirat.” (HR. Tirmidzi no.1054)

    Sumber:
    Hilyatul Auliya
    Siyar A’lam An-Nubala
    Sunan Tirmidzi

  • Kisah Orang yang Terakhir Masuk Surga

    Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc حفظه الله تعالى

    Sebuah kisah nabawi diriwayatkan oleh Imam Muslim.

    Beliau riwayatkan dari shahabat Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, satu petikan peristiwa mengharukan dan penggugah semangat bagi para pencari kebahagiaan. lnilah kisah orang terakhir yang keluar dari neraka. Dia pula orang terakhir yang memasuki jannah dengan derajat yang paling rendah.

    Alkisah, setelah shirath (jembatan) dipancangkan di atas neraka Jahannam, sementara di sisi-sisinya pengait-pengait tajam laksana duri pohon Sa’dan, manusia diperintah untuk menyeberanginya.

    Terbagilah mereka menjadi 3 golongan besar.
    Golongan Pertama : Mereka yang selamat tanpa halangan. Ada yang berjalan secepat kilat, ada yang berjalan sekejap mata, ada yang berlari seperti kuda, dan seterusnya. Mereka berjalan sesuai amalan ketika di dunia.
    Golongan Kedua : Mereka yang selamat menyeberangi shirat, namun terluka terkena sambaran-sambaran pengait.
    Golongan Ketiga : Mereka adalah orang-orang yang tersungkur ke jurang neraka jahannam.

    Merekalah orang-orang kafir, kaum munafik, yaitu orang kafir yang menampakkan keislamannya, atau kaum muslimin yang lebih berat amalan keburukannya ketimbang kebaikannya. Selang beberapa waktu, para penghuni neraka yang masih memiliki iman dikeluarkan satu per satu. Ada yang mendapat syafa’at malaikat, para nabi, atau kaum mukminin dari penduduk surga. Demikianlah, banyak dari penduduk neraka dari kalangan pemeluk agama tauhid dikeluarkan.
    Hingga yang paling terakhirnya adalah seorang yang dikisahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabda beliau:

    إِنِّي لَأَ عْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا وَآخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولاً الْجَنَّةَ رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنْ النَّارِ حَبْوًا فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ قَالَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا أَوْ إِنَّ لَكَ عَشَرَةَ أَمْثَالِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَقُولُ أَتَسْخَرُبِي؟ أَوْ أَتَضْحَكُ بِي وَأَنْتَ الْمَلِكُ قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ قَالَ فَكَانَ يُقَالُ ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً

    ”Sungguh, Aku tahu seorang penduduk neraka yang paling akhir keluar darinya, seorang penduduk jannah yang paling akhir masuk ke dalam surga. Dialah seorang lelaki yang keluar dari neraka dengan keadaan merangkak. Allah سبحانه وتعالى berfirman kepadanya, ’Pergilah, masuklah engkau ke dalam jannah’

    LaIu dia mendatangi jannah. Namun dikhayalkan kepadanya bahwa jannah telah penuh. Maka, dia kembali seraya berkata, ’Wahai Rabb-ku, aku mendapati jannah telah penuh.’
    Allah سبحانه وتعالى berfirman kepadanya, ’Pergilah, masuklah engkau ke dalam jannah !

    Sekali lagi dia mendatangi jannah. Namun kembali dikhayalkan bahwa jannah telah penuh. Dia pun kembali seraya berkata, ’Wahai Rabb-ku, aku mendapati jannah telah penuh.’
    Allah سبحانه وتعالى berfirman lagi kepadanya, ’Pergilah, masuklah ke dalam jannah! Sesungguhnya untukmu semisal dunia dan sepuluh kalinya, -atau untukmu sepuluh kali dunia-.’

    Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
    ’Laki-Iaki itu berkata, ‘Apakah engkau memperolok-olok aku, padahal Engkau adalah Raja?
    Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, ’Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tertawa sampai nampak gigi geraham beliau.’ Dan dikatakan bahwa orang itu adalah penduduk surga yang paling rendah derajatnya.” [H.R. Muslim].

    Subhanallah, inikah penduduk jannah terakhir? Allah سبحانه وتعالى berikan kenikmatan kepadanya semisal dunia dan sepuluh kali lipatnya! Betapa indahnya jannah.

    Andai kita diberi semisal kerajaan Nabi Sulaiman عليه السلام -yang merupakan sebagian kecil dari kenikmatan dunia- andai itu yang Allah سبحانه وتعالى berikan di dunia ini, niscaya sudah merupakan kenikmatan besar. Lalu apakah terbayang kenikmatan penduduk jannah yang paling rendah ini❓ Demi Allah, tidak terbayang betapa besar dan indahnya.

    Pembaca Qudwah yang mulia, kisah di atas diriwayatkan pula dengan lebih rinci dalam riwayat Iain. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa orang yang terakhir masuk surga adalah orang yang setiap kali melangkah, ia tersungkur dan dihanguskan oleh api neraka. Tatkala orang itu telah melewati neraka, dia menoleh ke arah neraka lalu berkata, ”Maha Suci Allah yang telah menyelamatkanku darimu (neraka), sungguh Dia telah memberiku sesuatu yang tidak pernah Dia berikan kepada orang lain dari umat yang pertama dan umat yang terakhir.” [H.R. Muslim]

    Sesungguhnya ia adalah manusia terendah dari penduduk jannah. Namun, ia merasa dialah orang yang paling beruntung dan tidak ada yang lebih beruntung darinya. Demi Allah, dia telah memperoleh keberuntungan yang hakiki. Dia diselamatkan dari neraka dan  dimasukkan ke dalam jannah. Allah سبحانه وتعالى berfirman,

    فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

    “Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [Q.S. Ali Imran: 185]

    Bukan kepingan emas yang menjadi patokan kebahagiaan. Bukan pula ekor-ekor sapi dan luasnya perkebunan. Semua itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melanjutkan sabda beliau, ”Kemudian orang tersebut ditunjukkan pada sebuah pohon. Lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb❗️Dekatkan aku dengan pohon ini agar aku bisa berteduh dan meminum airnya.’

    Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ‘Wahai anak Adam, jika Aku kabulkan permintaanmu, mungkin engkau akan meminta lagi yang Iain.’ Orang itu menjawab, ’Tidak. Wahai Rabbku.’ Allah Ialu mengambil janji darinya untuk tidak meminta lagi yang lain dari Allah. Dan Allah سبحانه وتعالى menerima alasan orang itu yang telah melihat sesuatu, kemudian ia tidak sabar untuk tidak memintanya. Allah سبحانه وتعالى pun mendekatkannya ke pohon tersebut. Sehingga ia berteduh dan meminum airnya.

    Tinggallah orang ini di bawah pohon pertama sekehendak Allah سبحانه وتعالى.

    Kemudian orang itu ditunjukkan kepada pohon lain yang Iebih bagus dari pohon yang pertama. Orang itu berkata, ”Wahai Rabbku. Dekatkanlah diriku kepada pohon itu. Agar aku bisa meminum airnya serta berteduh di bawahnya, dan aku tidak akan meminta yang Iain lagi.”

    Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ’Wahai anak Adam, bukankah engkau telah berjanji tidak akan meminta yang lain? Jika Aku dekatkan dirimu ke pohon itu, mungkin engkau akan meminta lagi yang lain.’

    Kembali Allah سبحانه وتعالى menerima atasan orang itu. Karena Dia mengetahui ketidak-sabarannya. Allah سبحانه وتعالى pun dekatkan orang tersebut kepada pohon kedua, kemudian ia berteduh dan meminum mya.

    Kali yang ketiga orang itu ditunjukkan pada sebuah pohon di pintu surga. Pohon yang lebih bagus dari dua pohon sebelumnya. Kemudian orang itu berkata, ”Wahai Rabbku! Dekatkanlah aku kepada pohon itu agar aku bisa berteduh dan meminum airnya. Aku tidak akan meminta yang Iain lagi kepada-Mu.”

    Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ”Hai manusia! Tidakkah engkau telah berjanji kepada-Ku untuk tidak meminta yang Iain lagi dari-Ku?’ Orang itu menjawab, ”Ya, wahai Rabbku❗️ Kali ini saya tidak akan meminta yang lain lagi kepada-Mu.” Allah سبحانه وتعالى menerima alasan orang itu. Karena Dia mengetahui ketidaksabarannya. Allah سبحانه وتعالى pun mendekatkannya kepada pohon tersebut.

    Ketika Allah سبحانه وتعالى mendekatkan orang itu kepada pohon tersebut, orang itu mendengar suara penghuni jannah.

    Subhanallah, kenikmatan jannah di depan mata. Suara penduduk jannah yang penuh kebahagiaan terdengar di telinga orang itu, hingga ia pun tidak sabar untuk berkata kepada Rabbnya, sebagaimana Rasulullah ﷺ kisahkan, “Wahai Rabbku❗️ Masukkanlah aku ke dalam jannah”

    Allah سبحانه وتعالى berfirman, ”Hai Anak Adam. Mengapa engkau mengingkari janjimu pada-Ku❓ Ridhakah engkau jika Aku memberimu dunia ditambah dengan yang semisalnya”‘

    Betapa besarnya kasih sayang Allah. Dia tetapkan orang itu sebagai penduduk jannah.

    Seakan tak percaya, orang itu menjawab, ”Wahai Rabbku! Apakah Engkau mengolok-olok aku, sedangkan Engkau adalah Rabbul’alamin?”

    Kemudian Ibnu Mas’ud رضي الله عنه tertawa. Lalu berkata, “Tidakkah kalian bertanya tentang apa yang membuatku tertawa?” Mereka menjawab, “Mengapa engkau tertawa?” Ibnu Mas’ud رضي الله عنه menjawab, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dahulu juga tertawa.

    Para shahabat رضي الله عنهم kala itu pun bertanya, ”Apa yang membuat Anda tertawa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Karena tertawanya Penguasa alam semesta ketika orang tersebut mengatakan kepada Allah, ’Apakah Engkau menertawakan saya sedangkan Engkau adalah Penguasa alam semesta?’

    Allah سبحانه وتعالى berfirman, “Sesungguhnya Aku tidak menertawakanmu. Tetapi Aku Maha Kuasa atas apa yang Aku kehendaki.”

    Hadits yang panjang ini diriwayatkan oleh Imam Muslim رحمه الله dalam kitab Shahih beliau.

    Faedah Kisah:

    1. Kisah yang agung ini menunjukkan besarnya kenikmatan jannah. Penduduk jannah yang terakhir saja mendapatkan semisal dunia dan dilipatkan sepuluh kali lipatnya. Lalu bagaimana dengan penduduk jannah yang di atasnya? Bagaimana pula dengan derajat tertinggi yang telah Allah sediakan bagi kekasihnya, Muhammad bin Abdillah shallallahu alaihi wasallam? Benarlah firman Allah سبحانه وتعالى:

    فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

    ”Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”  [Q.S. As-Sajdah: 17].

    2 Kisah ini menunjukkan bahwasannya jannah memiliki tingkatan-tingkatan.

    3 Hadits ini salah satu dalil dari keyakinan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, bahwa penduduk neraka yang masih memiliki iman walaupun seberat dzarrah tidak akan kekal di neraka. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

    فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

    ”Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” [Q.S. Az-Zalzalah: 7].

    4. Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap kaum Khawarij dan Mu’tazilah yang berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar kekal di dalam neraka dan tidak akan keluar darinya selama-lamanya. Kisah ini dengan tegas menetapkan keluarnya orang yang sudah masuk ke dalam neraka selama dia masih muslim, walaupun termasuk pelaku dosa besar.

    5. Hadits ini menetapkan beberapa sifat Allah سبحانه وتعالى. Di antaranya sifat-sifat itu adalah AI-Kalam, Allah سبحانه وتعالى maha mampu berbicara.

    6. Hadits ini menetapkan bahwasannya ahlul jannah berbicara dengan Allah dan mereka mendengar pembicaraan Allah سبحانه وتعالى.

    7. Di antara sifat yang juga ditetapkan dalam hadits ini adalah sifat tertawa bagi Allah سبحانه وتعالى-. Tentu saja dalam menetapkan sifat-sifat Allah سبحانه وتعالى, harus diiringi dengan keyakinan bahwa semua sifat Allah adalah sifat yang maha sempurna dan maha agung. Tidak ada satu makhluk pun yang serupa dengan sifat-sifat Allah.

    8. Hadits ini adalah dalil tentang adanya tempat di antara jannah dan neraka. Seperti orang yang terakhir keluar dari neraka, dia telah selamat dan keluat dari neraka, namun masih berada di luar jannah.

    Sumber || Majalah Qudwah Edisi 05

  • Memberi Maaf Lebih Utama dalam Permasalahan Pribadi

    MEMBERI MAAF LEBIH UTAMA DALAM PERMASALAHAN PRIBADI

    Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah memberikan jawaban ketika ditanya tentang sikap yang lebih utama ketika menghadapi pihak yang menzalimi kita.

    Beliau berfatwa,

    إذا كانوا قد ظلموك وأحببت العفو عنهم فأنت مأجور ولك خير عظيم وفضل كبير؛ لأن الله جل وعلا يقول: وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى [البقرة:237]، ويقول النبي ﷺ: ما زاد الله عبداً بعفو إلا عزاً، ويقول جل وعلا: فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ [الشورى:40]، فأنت على خير عظيم فإذا ظلموك في غيبة أو مال أو سب أو نحو ذلك وعفوت عنهم فأنت مأجور جزاك الله خيراً

    “Apabila sekelompok orang menzalimi Anda, sementara Anda berkeinginan memaafkan mereka, Anda akan memperoleh pahala. Anda juga meraih kebaikan yang agung dan keutamaan yang besar.

    Sebab, Allah _Azza wa Jalla_ berfirman,

    وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى [البقرة:237]،

    “Adapun sikap kalian memberi maaf itu lebih menerapkan ketakwaan.” (Al-Baqarah: 237)

    Demikian pula Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_ bersabda,

    ما زاد الله عبداً بعفو إلا عزا

    “Allah tidak akan mengaruniai seorang hamba yang memberi maaf selain tambahan kemuliaan.”

    Begitu pula firman Allah _Jalla wa ‘Ala_,

    فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ [الشورى:40]

    “Barang siapa memberi maaf dan berbuat baik, pahalanya Allah yang menanggungnya.” (Asy-Syura: 40)

    Jadi, Anda memperoleh kebaikan yang besar.

    Oleh karena itu, apabila mereka menzalimi Anda dalam bentuk gunjingan, harta, cercaan, atau semisalnya, kemudian Anda (justru) memaafkan mereka, sungguh Anda akan memperoleh pahala dan balasan kebaikan dari Allah.”

    Sumber : https://binbaz.org.sa/fatwas/12681/فضاىل-العفو-وطريقته

  • Imam Abu Dawud : Membeli Surga dengan 1 Dirham

    Oleh : Al Ustadz Abu Amr As Sidawy

    Sunan Abu Dawud, siapa yang tidak kenal kitab ini? Kitab yang disusun untuk mengulas pembahasan hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan urutan bab-bab fikih. Kitab ini termasuk di antara enam kitab induk yang menjadi rujukan dalam membahas hadis.

    Semua kalangan pasti kenal kitab ini. Tentunya ketenaran kitab ini tidak lepas dari sosok penyusunnya. Ya, beliau adalah Al Imam Sulaiman bin Al Asy’ats As Sijistaany yang lebih dikenal dengan kunyahnya Al Imam Abu Dawud rahimahullah.
    Beliau lahir pada tahun 202 H. Beliau dikenal akan keilmuan dan ketakwaannya. Beliau menjadi rujukan umat di masanya. Beliau memiliki pengetahuan yang luas dalam berbagai macam bidang ilmu. Para ulama di masa itu banyak memberikan pujian untuk beliau. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal, tokoh mazhab Hambali pernah meriwayatkan satu hadis dari Imam Abu Dawud.

    Imam Abu Bakar Al Khallal rahimahullah, salah seorang imam di masa itu pernah berkata tentang Al Imam Abu Dawud, “Abu Dawud adalah seorang imam yang sangat menonjol di masanya. Tidak ada satupun di masa itu yang mengungguli keilmuannya. Beliau adalah imam yang sangat bertakwa dan taat.”

    Apakah Anda pernah mendengar istilah “Jihbidz”? Ya, itu adalah gelar bagi para ulama pakar hadis yang memiliki kemampuan khusus dalam hal menilai kesalahan-kesalahan hadis yang sangat samar. Ulama hadis sangatlah banyak, namun tidak semua memiliki kemampuan untuk bisa mengetahui penyakit hadis yang sangat samar. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu.

    Dan ternyata kemampuan itu dimiliki oleh Al Imam Abu Dawud rahimahullah. Hal itu sangat nampak dari pujian para ulama yang diberikan kepada beliau. Berkata Ahmad bin Muhammad bin Yaasiin rahimahullah, “Abu Dawud adalah penjaga Islam yang sangat mengerti hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dari sisi sanad maupun penyakit-penyakitnya. Beliau adalah imam yang sangat rajin dalam beribadah. Sangat menjaga kehormatan diri. Imam yang saleh dan bertakwa. Pakarnya ilmu hadis.”
    Ketika beliau menyusun kitab sunannya, semua kalangan menerima kitab tersebut. Bahkan mereka mengakui bagaimanakah keilmuan beliau dengan kitab itu. Berkata Muhammad bin Ishaq Ash Shaaghaani dan Ibrahim Al Harbi, “Ketika Abu Dawud menyusun kitab sunannya, seakan hadis ditundukkan untuk beliau. Sebagaimana besi ditundukkan untuk Nabi Dawud ‘alaihis salam.”

    Berkata Muhammad bin Makhlad rahimahullah, “Ketika beliau menyusun kitab sunannya, beliau membacakannya kepada umat manusia. Para ulama hadis menganggap kitab beliau seperti mushaf. Mereka mengikutinya dan tidak menyelisihinya. Semua orang di masa beliau mengakui hafalan dan keunggulan beliau.”

    Suatu hari Sahl bin Abdillah Attustary datang mengunjungi Imam Abu Dawud. Seseorang berkata, “Wahai Abu Dawud, Sahl datang menemuimu.” Maka beliau pun menyambutnya dengan hangat dan meminta beliau untuk duduk bersamanya.
    Sahl berkata, “Wahai Abu Dawud, aku memiliki kebutuhan denganmu.”
    “Apa itu?” Tanya Abu Dawud.
    “Engkau harus berjanji akan memenuhinya.” Tegas Sahl.
    “Ya.” Jawab Abu Dawud.
    “Keluarkan lisanmu yang engkau gunakan untuk membaca hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku ingin menciumnya.” Pinta Sahl. Beliau pun mengeluarkan lisannya dan Sahl pun menciumnya.
    Subhaanallah, begitulah sikap hormat para ulama di masa itu kepada para pembawa hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Hingga ada sebagian yang berlebihan dalam memuji beliau sampai mengatakan, “Abu Dawud diciptakan di dunia untuk mengkhidmat hadis. Dan diciptakan di akhirat untuk surga.”

    Beliau juga memiliki sikap adil dan ketegasan. Abu Bakar bin Jabir pembantu Abu Dawud pernah bercerita, “Suatu hari aku pernah bersama Abu Dawud di Kota Baghdad. Kami salat Maghrib di sana. Setelah itu datanglah Abu Ahmad Al Muwaffaq seorang amir (gubernur). Abu Dawud menyambutnya dan berkata, “Tidak biasanya seorang amir datang di waktu seperti ini.”
    Dia menjawab, “Aku datang dengan membawa tiga hal.”
    “Apa itu?” Tanya Abu Dawud.
    Sang amir berkata, “Engkau harus pindah ke Bashrah dan tinggallah di sana. Agar para pencari ilmu datang berguru kepadamu. Sehingga Kota Bashrah menjadi kembali makmur. Karena Bashrah sekarang hancur dan ditinggal oleh manusia, setelah terjadi fitnah besar di sana.”
    “Ini yang pertama.” Tanggap Abu Dawud.
    Sang amir berkata lagi, “Aku minta engkau membacakan kitab sunanmu untuk anak-anakku.”
    “Ya, sebutkan yang ketiga!”
    Sang amir berkata, “Aku memintamu untuk mengajari mereka secara khusus. Karena anak-anak khalifah tidak bisa duduk bersama orang-orang umum.”
    Dengan tegas Abu Dawud menolak dan berkata, “Kalau ini aku tidak bisa mengabulkannya. Semua manusia sama dalam hal mencari ilmu.” Anak-anak sang amir akhirnya hadir di majelis Abu Dawud, mereka duduk dengan memakai baju yang melingkar dan memiliki penutup. Mereka duduk dengan masyarakat umum yang lain. MasyaAllah, begitulah ilmu mengangkat derajat pemiliknya.

    Ada sebuah kisah yang sangat menakjubkan dari beliau. Sebagai bukti akan ketakwaan beliau dan ketaatan beliau dalam menjalankan sunnah dan ibadah. Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah penulis kitab Fathul Baari berkata, “Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dengan sanad yang baik dari Abu Dawud rahimahullah penyusun kitab Sunan. Suatu hari beliau (Abu Dawud) sedang naik kapal. Tiba-tiba beliau mendengar seseorang bersin di seberang dermaga, kemudian orang ini membaca Alhamdulillah. Segera Abu Dawud menyewa sampan kecil dengan tarif satu dirham. Beliau mendayungnya hingga menghampiri lelaki tadi, kemudian beliau membaca, ‘yarhamukallah.’ Setelah itu beliau kembali ke tempat semula.
    Beliau ditanya mengapa bersusah payah menyewa sampan kecil hanya untuk menanggapi orang yang bersin. Beliau menjawab, “Siapa tahu orang tadi memiliki doa yang dikabulkan.”
    Maksud beliau ketika dia berdoa untuk Abu Dawud, harapan beliau Allah mengabulkannya. Ketika waktu malam tiba, semua penduduk kapal tertidur. Tiba-tiba mereka mendengar seseorang berkata, “Wahai penghuni kapal, sungguh Abu Dawud telah membeli surga dari Allah dengan satu dirham.”
    MasyaAllah, alangkah semangatnya beliau dalam beribadah kepada Allah, bahkan dengan hal yang remeh sekalipun beliau berupaya untuk bisa menjalankannya. Semoga Allah merahmati beliau.

    Beliau meninggal pada tanggal enam belas bulan Syawwal tahun dua ratus tujuh puluh lima. Semoga Allah merahmati beliau. Kita memohon kepada Allah taufik dan hidayah untuk bisa meniru dan meniti jejak ulama kita dalam membela sunnah, menyebarkannya, dan mendakwahkannya. Amin.

    Disadur dari kitab Siyar A’laamun Nubala’ karya Al Hafizh Adz Dzahabi dan dari kitab Karaamaatul Auliya karya Abdur Raqib Al Ibbi.

    Sumber:
    Majalah Qudwah edisi 69 vol.06 1440 H rubrik Ulama.

  • Bolehkah Membaca Kitab-Kitab Orang-Orang Menyimpang yang Ditulis Sebelum Menampakan Penyimpangannya (DiTahdzir Oleh Ulama)

    ASY-SYAIKH RABI’ BIN HADY AL-MADKHALY HAFIZHAHULLAH

    Pertanyaan:
    Sebagian orang yang dibicarakan (dibantah kesalahannya dan ditahdzir –pent) memiliki kitab-kitab, maka sebagian manusia ada yang menanyakan apakah boleh memanfaatkan kitab-kitabnya sebelum orang-orang yang menyimpang itu dibantah dan sebelum nampak penyimpangannya dari manhaj Salaf, maksudnya apakah kitab-kitabnya yang lama boleh dimanfaatkan?

    Jawaban:

    بسم الله الرحمن الرحيم
    ال حْ مَ دْ لله و اِلص لَّا ةَ و اَلس لَّا مَ ع لَ ىَ ر سَ وُ لْ اللهِ
    و عَ لَ َى آل ِه و صَ َح بْ هِ و مَ َن ات بَّ َع ه ُد اَه أ مَ َّا
    :ب عَ دُْ

    Sebagai jawaban atas pertanyaan ini saya katakan:
    Jika orang yang kalian sebutkan ini dia memiliki kitab-kitab di atas manhaj Salafus Shalih dari sisi akidah, dakwah, dan manhaj, dan padanya tidak terdapat cacat, maka dilihat dulu penyimpangannya. Jika hal itu berupa ketergelinciran sebagian ulama atau ketergilinciran para ulama yang masih diharapkan taubatnya dan meninggalkan kebathilannya, maka ketergelincirannya ini dimintakan ampunan, diharapkan kebaikan untuknya, dan tidak terburu-buru menyikapinya.

    Namun jika dia adalah orang yang telah menyebar kejahatannya, membahayakan, membangkang, menyombongkan diri, dan enggan untuk kembali kepada jalan yang benar, maka orang semacam ini diantara bentuk hukuman terhadapnya adalah dengan tidak menerima kebenaran darinya (maksudnya tidak membaca kitabnya, tidak mendengar kasetnya, dan tidak belajar kepadanya, bukan berarti menyatakan bathil jika dia bicara yang benar –pent).
    Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian Salaf:
    “DIANTARA HUKUMAN AHLI BID’AH ADALAH DENGAN TIDAK MENERIMA KEJUJURAN MEREKA.”

    Kita tidak butuh terhadap mereka, karena sudah cukup dengan Kitab Allah, Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam, serta warisan yang banyak dan agung yang telah ditinggalkan untuk kita oleh para pendahulu kita dalam semua bidang, apakah akidah, manhaj, akhlak, hukum halal haram, dan yang semisalnya. Manusia bersegera dan lebih suka mendatangi sesuatu yang baru, padahal sesuatu yang baru itu terkadang mengandung bencana dan musibah.

    Maka yang pertama kali hendaknya kalian berada pada tingkatan pertama, yaitu dengan mempelajari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi was sallam karena pada keduanya terdapat petunjuk dan cahaya dan telah mencukupi. Kemudian dengan riwayat-riwayat dari Salaf yang berporos pada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam. Kemudian disertai dengan upaya mengokohkan manusia di atas kandungan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu‘alaihi was sallam dalam perkara-perkara akidah dan manhaj, dan itu sangat banyak sekali.

    Jadi hendaknya kalian menimba ilmu darinya (Al-Qur’an, As- Sunnah dan riwayat Salaf) walhamdulillah. Karena sesungguhnya dikhawatirkan terhadap seorang penuntut ilmu jangan sampai dia diculik oleh orang-orang yang pura-pura menampakkan manhaj Salaf, kemudian Allah nampakkan hakekat mereka dan Allah bongkar tujuan busuk mereka.

    Hal semacam ini telah banyak terjadi di masa ini. Ada orang-orang yang lahiriyahnya di atas manhaj Salaf, kemudian setelah malam dan hari berganti serta terjadi berbagai peristiwa, tiba-tiba tersingkaplah keadaan mereka. Kita tidak tahu apakah dahulu mereka benar-benar di atas kebenaran dan merasa puas dengan manhaj Salaf?! Ataukah mereka hanya berkedok saja?! Allah saja yang mengetahui hakekat keadaan mereka.

    Maka orang-orang yang semacam mereka itu saya berpendapat untuk tidak merasa butuh kepada mereka dan tidak perlu bersedih karena merasa kehilangan mereka dan apa yang telah mereka usahakan. Pada kita ada yang telah mencukupi walhamdulillah.
    Hanya kepada Allah saja saya memohon agar mengokohkan kami dan kalian di atas kebenaran serta menjauhkan kami dan kalian dari berbagai fitnah yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya Rabb kita Maha Mendengarkan doa.

    و صَ لَ ىَّ الله ع لَ ىَ ن بَ يِ نِّ اَ م حُ مَ دَّ و عَ لَ ىَ آل هِِ
    .و صَ حَ بْ هِ و سَ لَ مََّ

    Sumber:
    http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=143439

  • Bolehkah Mengambil yang Termudah Ketika Ada Perbedaan Pendapat Diantara Para Ulama

    Asy-Syaikh Muqbil bin Hady Rahimahullah

    Pertanyaan:
    Ketika ada perbedaan pendapat di kalangan ulama pada suatu masalah, apakah boleh bagi seseorang untuk mentarjih diantara pendapat pendapat mereka dan mengambil yang sesuai dengan dirinya, padahal orang tersebut bukan termasuk orang yang ahli di dalam mentarjih, dan apakah hal ini termasuk perbuatan mencari-cari rukhshah (keringanan)?

    Jawaban:
    Ini adalah perkara yang penting, sebagian orang-orang Al-Azhar racun-racun mereka telah menebar di negeri-negeri Islam dan mereka pernah berbicara semisal dengan hal ini di al-Jami’ah al-Islamiyyah, yaitu bahwasanya jika muncul sebuah perkara maka dilihat perkataan-perkataan para ahli fikih, kemudian diambil yang paling mudah bagi manusia, dan seakan-akan kita diberi kebebasan memilih di dalam agama Allah, padahal perkataan-perkataan para ahli fikih bukanlah hujjah. Tetapi barangsiapa yang mmeiliki kemampuan untuk melihat dalil-dalil dan perkataan-perkataan mereka, kemudian dia mentarjih sesuai tuntutan dalil, maka dia boleh melakukannya. Kalau tidak demikian maka Rabbul ‘Izzah berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia:

    ف اَس أْ لَ وُ اْ أ هَ لْ الذ كِّ رْ إ نِ ك نُ تْ مُ لا ت عَ لْ مَ وُ نَْ

    [“Maka bertanyalah kepada para ulama jika kalian tidak mengetahui.”
    (QS. An-Nahl: 43]

    Adapun sikap main-main yang dilakukan oleh banyak orang-orang Al-Azhar dengan memilih apa yang sesuai dan cocok dengan realita dan selera manusia, maka ini tidak benar Dan para ulama telah mengatakan:
    “Mencari-cari rukhshah adalah perbuatan zindiq (kekafiran).”
    Jadi wajib untuk mengambil pendapat yang sesuai dengan tuntutan dalil, kalau dia tidak mampu maka hendaklah dia bertanya kepada ahli ilmu tentang dalilnya.

    Fadha-ih wa Nasha-ih, hal. 121-123
    Sumber: http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=3474

    الشيخ مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله
    السؤال:
    عند اختلاف العلماء في مسألة هل للشخص أن يرجح بين أقوالهم ويأخذ
    ما يناسبه مع أنه ليس من أهل الترجيح وهل هذا يعد من تتبع الرخص؟
    الإجابة:
    هذا أمر مهم؛ فبعض الأزهريين بثت سمومهم إلى كثير من البلاد
    الإسلامية وكانوا يتكلمون بنحو هذا في الجامعة الإسلامية أنها إذا
    حدثت قضية تنظر إلى أقوال الفقهاء، ثم تأخذ الأسهل على الناس
    وكأننا مفوضون في دين الله.
    وأقوال الفقهاء ليست بحجة بل من كان أهلا أن ينظر في أدلتهم
    وأقوالهم ثم يرجح ما يقتضيه الدليل فعل، وإلا فرب العزة يقول في
    كتابه الكريم: “ف اَس أْ لَ وُا أ هَ لْ الذ كِّ رْ إ نِ ك نُت مُ لاَ
    [ ت عَ لْ مَ وُن ”َ [النحل: 43
    أما ألعوبة كثير من الأزهريين ما يناسب ومايتلأم مع الواقع ومع
    الناس فلا.
    وقد كان العلماء يقولون: تتبع الرخص زندقة.
    فلا بد من الأخذ بما يقتضيه الدليل، وإلا فليسأل أهل العلم عن
    الدليل.
    122- فضائح ونصائح ص 121

Close
Close