Dakwah & TarbiyahFatwa UlamaFiqihHadistQur'an & HadistTafsirTholibul Ilmi

BOLEHKAH BAGI ORANG YANG SUDAH SHALAT TARAWIH DAN DITUTUP DENGAN WITIR UNTUK KEMUDIAN IA MELAKUKAN SHALAT TAHAJJUD?

✍🏻 Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah

[Pertanyaan:]

◾Apa hukumnya shalat Tarawih dan shalat Tahajjud?

◾Kapankah waktu shalat Tahajjud ? Dan berapakah jumlah raka’atnya?

◾ Dan apakah boleh bagi siapa yang sudah shalat Witir setelah selesai dari Tarawihnya, untuk ia shalat Tahajjud, ataukah tidak boleh?

◾ Dan apakah shalat Tarawih diharuskan bersambung dengan shalat Isya, yaitu dilakukan setelahnya secara langsung, ataukah boleh seandainya ada suatu jama’ah yang bersepakat untuk mengakhirkannya setelah shalat Isya, lalu mereka berpisah dan berkumpul lagi di lain kesempatan untuk mengerjakan shalat Tarawih? Ataukah yang demikian itu tidak boleh?

[Jawab:]

◻Adapun shalat Tarawih, maka hukumnya sunnah muakkadah, dan pelaksanaannya adalah setelah shalat Isya dan sunnah rawatibnya (ba’diyyah) secara LANGSUNG. Inilah yang menjadi amalan kaum muslimin semenjak dahulu.

◻ Adapun mengakhirkannya sebagaimana ditanyakan oleh penanya, sehingga mereka mendatangi masjid dan mengerjakan Tarawih tersebut; maka ini menyelisihi apa yang telah menjadi amalan (muslimin) terdahulu. Para ulama ahli fiqih menyebutkan bahwasanya Tarawih itu dikerjakan segera setelah shalat Isya dan sunnah rawatibnya. Namun seandainya mereka mengakhirkannya, maka tidak kami katakan bahwa ini haram, akan tetapi yang demikian itu menyelisihi apa yang telah menjadi amalan semenjak dulu.

◻ Adapun Tahajjud; maka hukumnya juga sunnah, dan padanya terdapat keutamaan yang besar. Dan Tahajjud adalah shalat malam (yang dikerjakan) setelah bangun tidur. Lebih-lebih pada sepertiga malam terakhir, atau setelah pertengahan malam. Padanya terdapat keutamaan besar dan pahala yang banyak. Bahkan termasuk seutama-utama shalat Tathawwu’ (tambahan) yaitu Tahajjud di malam hari.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئاً وَأَقْوَمُ قِيلاً

“Sesungguhnya bangun (shalat) malam itu lebih kuat pengaruhnya dan lebih tepat bacaannya.” (Al-Muzamil 6)

dan termasuk bentuk meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

◻ Dan seandainya seseorang shalat Tarawih, dan ia ikut Witir bersama imamnya, kemudian ia bangun lagi waktu malam dan melakukan Tahajjud; maka tidak ada larangan dari hal tersebut, dan tidak perlu ia mengulangi Witirnya, telah cukup baginya Witir bersama imamnya (tadi), dan ia bertahajjud dari sebagian waktu malam sepanjang apa yang Allah mudahkan.

Dan jika ia mengakhirkan Witirnya hingga akhir shalat malam, maka tidak mengapa, tetapi ia kehilangan (keutamaan) mengikuti imam. Maka yang lebih utama agar ia mengikuti imam untuk Witir bersamanya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: 

من قام مع الإمام حتى ينصرف ؛ كتب له قيام ليلة 

“Barangsiapa shalat bersama imam sampai selesai, niscaya dituliskan (pahala) baginya shalat semalam suntuk.” (H.R Abu Daud, Tirmidzi, Ab-Nasai, Ibnu Majah)

Maka ia ikuti imamnya, ia ikut Witir bersamanya, dan yang demikian ini tidak menghalanginya untuk bangun lagi di akhir malam guna bertahajjud semampunya.”

TANYA JAWAB SEPUTAR SHALAT TARAWIH DAN TAHAJJUD
| Sumber: Al-Muntaqa min Fataawaa al-Fawzan (jilid 3, hal. 76, fatwa no.116).
| Faidah dari Ustadz Muhammad Higa hafizhahullah_Sewon Bantul

••••
🌏 Link:
http://forumsalafy.net/tanya-jawab-seputar-shalat-tarawih-dan-tahajjud/

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close
Close